la5cdBVcJFaCKClaZd870wvmwrwziXBkFqlQB4ZQ
Bookmark

MAKALAH TAFSIR AL-MISBAH QS. AL-AN’AM AYAT 78-79

TAFSIR AL-MISBAH QS. AL-AN’AM AYAT 78-79


Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS

Mata Kuliah : Bahtsul Kutub

Dosen Pengampu: Moh. In’ami, M.Ag.

MAKALAH TAFSIR AL-MISBAH QS. AL-AN’AM AYAT 78-79

Disusun Oleh :

1. Purnomo (1410120067)



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2017


Pendahuluan

Al-qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, dan merupakan kitab suci yang menjadi pedoman dan sumber hukum bagi umat Muslim diseluruh muka bumi, dalam mengamalkan perintah-perintah Allah yang ada dalam Al-qur’an tentunya, seseorang harus bisa memahami dan mengerti apa isi yang dimaksud dan dikehendaki dalam Al;qur'an.

Salah stu usaha ynag dilakukan untuk mempermudah orang awam dalam memahami kandungan dalam Al-qur’an adalah dengan cara menafsirkan Al-qur’an, tujuan adanya penafsiran Al-qur’an, selain mempermudah kita dalam memahami kandungan dalam Al-qur’an tentunya tentunya kita bisa menemukan dan lebih menggali lagi tentang kandungan isi Al-qur’an.

Diindonesia sendiri salah satu tokoh ulama’ yang mendalami Al-qur’an dan menjadi penafsir Al-qur’an salah satunya adalah M. Quraish Shihab beliau merupakan seorang ahli tafsir yang sudah sangat terkenal dengan berbagai karyanya dan salah satunya adalah Tafsir Al-misbah.

A. Tafsir QS. Al-An’am ayat 79

1. Teks dan Terjemah QS. Al-An’am ayat 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya : Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

2. Tafsir QS. Al-An’am ayat 79

Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku, yakni seluruh jiwa raga dan totalitasku kepada yang menciptakan langit dan bumi, dengan isinya termasuk semua benda-benda angkasa seperti matahari, bintang dan bulan. Aku menghadapkan wajahku dalam keadaan haniffan cenderung pada agama yang benar, Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan, yakni bukan menganut apa yang di anut oleh kaumnya bahkan oleh siapapun yang mengakui dalam hati, atau ucapan atau perbuatan bahwa ada penguasa atau pemberi pengaruh terhadap sesuatu selain Alla swt. atau kecuali atas iain-Nya.[1]

Baca: METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. IBRAHIM AYAT 24-25

Kata (حَنِيفً) hanif, biasa diartikan lurus, atau cenderung kepada sesuatu kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringan telapak pasamgannya. Yang kanan condong ke arah kiri, dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu, menjadikan si pejalan tidak condong ke kiri, tidak pula ke kanan. Ajaran Nabi Ibrahim as. Adalah hanif, tidak bengkok, tidak memihak kepada pandangan hidup yang hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tidak juga semata-mata mengarah pada rohani.[2]

Al-Baqa’i memahami kata hanif dengan arti “kecenderungan kepada fitrah atas dasar dalil dan dengan mudah lagi lemah lembut, bukan atas dasar taklid.”

Pernyataan Nabi Ibrahim as. bahwa beliau menghadapkan wajahnya kepada langit dan bumi bertemu dengan pernyataan-Nya dalam awal surah ini bahwa, Allah adalah pencipta lagit dan bumi (ayat 1).[3]

Para ulama mendiskusikan megapa ayat ini menggunakan kata hadza (ini) yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang bersifat mudzakar (maskulin/jantan) padahal yang ditunjukan adalah matahari dalam bahasa arab dinilai sebagai muanats (feminim/betina)sehingga seharusnya kata yang digunakan adalah hadzihi.

Ada yang berpendapat bahwa ini sejalan dengan bahasa masyarakat Nabi Ibrahim as. yang tidak mengenal bentuk mudzakar (maskulin) dan muanats (feminim). Ada lagi yang berpendapat bahwa masyarakat Nabi Ibarahim meyakini bahwa matahari adalah jantan yang berdampingan dengan betinanya yang bernama Anunit, karena itu Nabi Ibrahi as. menggunakan kata yang mennjuk kepada keyakinan mereka. Tetapi pendapat diatas sulit diterima, karena kalaupun ada bahasa yang tidak mengenal maskulin dan feminim, atau bahwa keyakinan mereka tentang matahari seperti itu,tetapi yang digunakan pada ayat ini adalah bahasa arab. Di sisi lain, bukankah pada ayat yang lain Nabi Ibrahim as. menggunakan bentuk feminim pada matahari? (Baca QS. Al-Baqarah [2]: 258). Pendapat lain menyatakan bahwa Nabi Ibrahim as. menggunakan kata tersebut untuk mengisyaratkan sejak dini bahwa yang dipertuhan haruslah sesuatu yang memiliki kekuatan yang memiliki kemuliaan sedangkan perempuan atau betina tidak demikian. Pendapat ini yang antara lain disinggung oleh Al-Baqa’i sulit diterima, bahkan boleh jadi ia merupakan bias dari pandangan yang merendahkan derajat kaum wanita.[4]

Baca: MAKALAH KAJIAN TAFSIR SURAT AL MAIDAH AYAT 55

Pendapat yang dikemukakan oleh Thabathab’ai berdasarkan tinjauan kebahasaan. Menurutnya menggunakan isyarat yang berbentuk maskulin dapat digunakan ketika pembicara menunjuk kepada sesuatu yang tidak jelas. Jika anda melihat satu sosok yang tidak dikenal, apakah dia lelaki atau perempuan., maka ketika itu anda dapat bertanya man hadza (siapa ini) dengan menggunakan kata yang berbentuk maskulin. Ini menurut Ulama bermadzhab Syi’ah itu, mengandung isyarat bahwa ketika itu Nabi Ibrahin as. belum mengetahui persis tentang matahari, sebagaimana pengetahuan kita tentang benda angkas itu. Apa yang diuraikan dalam ayat ini dan semacamnya dari ucapan-ucapan Nabi Ibrahim as. terhadap orang tua dan kaumnya, menyangku tauhid dan penolakan syirik, menunjukan bahwa beliau hidup sebelum itu dalam lingkungan yang berbeda dari lingkungan orang tua dan kaumnya. Beliau tidak mengetahui apa yang diketahui oleh kelompok masyarakat menyangkut rincian bagian-bagian alam raya serta adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Ketika beliau pada awal masa pertumbuhan dan perkembangan itu, beliau meninggalkan kehidupan kesendirian kemudian beliau mengikuti orang tuanya yang ditemuinya memiliki berhala-berhala. Dari siini kemudian beliau berdiskusi dengan azar orang tuanya itu lalu dengan kaumnya yang di uaikan dialognya oleh ayat-ayat diatas. [5]

Kembali kepada bentuk maskulin yang menunjuk pada kata asysyams/matahari – padahal berdasar kaidah kebahasaan arab yang populer semestinya berbentuk feminim – agaknya pendapat yang lebih logis sekaligus sejalan dengan kaidah kebahasaan adalah yang menyatakan bahwa kata hadza walaupun menunjuk kepada kata matahari, tetapi karena yang dimaksud adalah fungsinya sebagai tuhan maka ia ditunjuk dengan kata tersebut. Bahasa arab, bahkan Al-qur’an sering menggunakan cara demikian dalam redaksi-redaksinya.

B. Analisis Fakta QS. Al-An’am ayat 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku.

Pada ayat ini disebutkan dengan jelas bahwa Nabi Ibrahim menhadapkan dirinya, namun yang dikehendaki pada ayat ini bukan secara harfiah saja tetapi meliputi menghadapkan segenap jiwa raganya secara totalitas seperti yang telah tertulis di atas tadi, lalu kepada siapa sebenarnya Nabi Ibrahim menghadapkan dirinya?.

لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi.

Sampai pada potongan ayat ini tentunya kita bisa mengetahui bahwa Nabi Ibrahim as menghadapkan dirinya pada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, namun yang di kehendaki pada ayat ini bukan hanya sebatas mencipatakan lagit dan bumi saja, tetapi meliputi semua yang ada didalamnya termasuk kita sebagai manusia yang hidup didunia.

حَنِيفًا

dengan cenderung kepada agama yang benar.

Yang dikehendaki dalam ayat ini adalah dengan cenderung kepada agama yang benar (lurus), yang bisa berarti kita harus senantiasa berada dijalan yang di kehendaki Allah yaitu di jalan yang lurus (kebenaran), dan harus bisa menjalankan dan menyeimbangkan antara kebutuhan ruhaniah dan jasmaniah, antara keduanya tidak boleh ditinggalkan dan dilupakan.

الْمُشْرِكِينَ مِنَ أَنَا وَمَا

dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Baca: OBYEK PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. AS-SYU’ARA AYAT 214

Pada ayat ini sudah sangat menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah melakukan kesyisikan. Dalam ayat ini mengajarkan pada kita bahwa selain menjauhkan diri dari perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) kita juga harus menjauhkan diri orang-orang yang melakukan kesyirikan, maksud dari menjauhkan diri dari orang-orang yang melakukan syirik bukan secara harfiah menjauhkan diri kita dari mereka, namun kita tidak boleh mengikuti amalan syirik yang mereka lakukan bahkan walaupun kita serumah dengan orang yang melakukan kesyirikan jangan sampai kita mengikuti kesyirikan yang mereka lakukan, namun jangan jauhkan diri kita dari mereka dan bila perlu berilah nasehat pada pelaku syirik itu, agar mereka bisa kembali pada jalan yang lurus (jalan yang benar).

2) Critical Thinking

Dalam kehidupan sehari-hari pastinya sering banyak dijumpai orang yang mengaku islam, dan itu berlaku juga untuk penulis namun pada kenyataanya, kebanyakan itu hanya sebatas pemanis dalam sebuah ktp karena secara relita yang ada banyak yang hanya karena alasan kerja, sholatnya ditinggalkan, bahkan sering juga ada orang yang ketika hari jum’at tiba, dan masuk waktu jum’atan banyak dari para buruh yang masih asyik bersantai dan tak pereduli dengan jum’atan itu sendiri, padahal barang tentu saat waktu jum’atan bertepatan dengan waktu istitahat, sungguh sangat ironi sekali jika kita sebagai manusia hanya mementingkan kepentingan jasmani (dunia saja) dan mengesampingkan kebutuhan rohaniah.

Sebagai warna negara indonesia tentunya kita akan hidup berdampingan dengan berbagai golongan dan pemeluk agama lain selain agam islam yang mungkin bagi kita sebagai orang islam mereka adalah orang yang musyrik, karena menyembah tuhan selain Allah, karena memang indonesia adalah negara yang ber BHINEKA TUNGGAL IKA, selain itu kita juga harus selalu ingat, bahwa indonesia yang mayoritas muslim ini tak akan ada tanpa adanya keberagaman yang ada didalamnya untuk itulah sebagai warga indonesia tentunya koita ahrus selalu menjaga toleransi antar umat beragama, selain itu agama islam merupakan agama yang sangat toleran dan Rahmatan lil alamin.

Baca: MAKALAH TAFSIR AL MISBAH QS. AL BAQARAH AYAT 165

Dengan maraknya media sosial dan mudahnya penggunaannya, seperti sekarang ini tentunya banyak sekali orang yang kurang bertoleransi dan saling mengejek dan merendahkan agama lain yang akan memberikan dampaka yang sangat buruk bagi yang lainnya hanya karna segelintir orang aja, untuk itulah kita dituntut untuk harus selalu sabar dan tidak mudah terpancing dengan adanya provokasi dari segelintir orang, karena pada intinya semua agama sama-sama memerintah untuk berbuat baik bukan sebaliknya menyuruh pada keburukan, jika oang-orang yang mengaku beragama dan berbhineka melakukan adu domba antar agama, mak perlu dipertanyakan lagi imannya.

D. Kesimpulan

Dalam memahami sebuah ayat dalam Al-qur’an tentunya kita tidak boleh hanya menelan dan memahami secara mentah-mentah ayat Al-qur’an itu, namun harus juga belajar memahami apa sebenarnya yang di kehendaki dalam ayat itu sendiri, tentunya bagi orang awam dan tidak menghususkan dirinya dalam memahami Al-qur’an akan sangat kesulitan untuk itulah bisa dengan belajar sedikit demi sedikit melalui kitab-kitab tafsir, agar kita bisa lebih mudah dalam memahaminya.

E. Penutup

Demikian Makalah ini saya buat sesuai dengan kadar kemampuan saya karna menyadari masih banyak kekurangan dalam segala hal cara berfikir saya yang masih awam,gaya bahasa saya yang belum rapi dan dalam menyusun makalah.Oleh karna itu saya pribadi memohon maaf dengan sangat dan krtik serta saran sangat saya butuhkan untuk jadi acuan buat saya nantinya supaya bisa lebih baik.Atas perhatiannya,saya haturkan Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

[1]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm,169

[2]Ibid

[3]Ibid

[4]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm,169-170

[5]Ibid

Posting Komentar

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan