la5cdBVcJFaCKClaZd870wvmwrwziXBkFqlQB4ZQ
Bookmark

Kisah khaulah binti tsa’labah perempuan yang do'anya di dengar Allah dan menjadi sebab turunnya ayat Al-qur'an

 Kisah khaulah binti tsa’labah perempuan yang do'anya di dengar Allah dan menjadi sebab turunnya ayat Al-qur'an

Khaulah merupakan salah seorang wanita yang dengan tegas berani menasehati kholifah umah bin khattab, siapa sebenarnya sosok khaulah binti Tsa'labah, sampai-sampai dia berani menasehati amirul mu'minin umar bin khattab yang sangat disegani dan di hormati, bahkan bukan hanya oleh kaum muslim saja.

Sepenggal kisah Khaulah binti Tsa’labah

Khaulah binti Tsa'labah merupakan seorang perempuan salihah dan juga cerdas. Ia merupakan istri dari Aus bin Shamit bin Qais. Diceritakan pada suatu hari, Khaulah dan suaminya Aus menghadapi suatu masalahan yang membuat Aus begitu marah dan berkata pada Khaulah, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.”
Setelah beberapa waktu setelah mengucapkan kalimat itu, Aus kembali masuk kedalam rumahnya dan Ia mengajak khaulah untuk berhubungan badan dengannya, Namun Khaulah segera menolaknya karena perkataan yang telah keluar dari mulut Aus. Menurut Khaulah, Aus tidak dapat lagi berhubungan dengannya sampai ada kepastian dari Allah dan Rasul-Nya tentang kejadian yang sedang mereka alami.

Pada masa Jahiliah, perkataan yang telah di ucapkan oleh Aus, yaitu menyamakan Khaulah (istrinya) dengan punggung ibunya, sudah sama dengan menalak istrinya (Di sebut zhihar).

Khaulah mendatangi Rasulullah

Khaulah kemudian pergi mendatangi Rasulullah SAW Ia menceritakan semua kejadian yang telah di alaminya. Rasulullah SAW menjawab, bahwa belum ada keputusan dari Allah. Rasulullah juga bersabda “Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia.”

Mendengar jawaban langsung dari Rasulullah, tentunya Khaulah menjadi sangat sedih karena hal itu berarti dia dan suaminya bercerai. Ia berusaha menjelaskan akibatnya kepada Rasulullah jika dirinya dan Aus bercerai.

kemudian, karena belum adanya keputusan dari Allah yaitu berupa ayat Al-qur'an yang di turunkan pada Rasulullah, Khaulah selalu meminta kepada Allah SWT agar memberikan keputusan tentang permasalahan yang telah dihadapinya.

Do'a Khaulah di ijabah Oleh Allah

hari demi hari ia lalui dengan berdo'a dan mengadu pada Allah Yang Maha Bijaksana. Sampai akhirnya Allah menurunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan permasalahan zhihar yang telah dialami oleh Khaulah.
(Qs. Al mujadillah ayat 1-4)
Allah SWT berfirman:


قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَ تَشْتَكِيْۤ اِلَى اللّٰهِ ۖ وَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ ۢ بَصِيْرٌ
qod sami'allohu qoulallatii tujaadiluka fii zaujihaa wa tasytakiii ilallohi wallohu yasma'u tahaawurokumaa, innalloha samii'um bashiir


"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 1)


اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَآئِهِمْ مَّا هُنَّ اُمَّهٰتِهِمْ ۗ اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٓـٰـئِـيْ وَلَدْنَهُمْ ۗ وَاِنَّهُمْ لَيَقُوْلُوْنَ مُنْكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوْرًا ۗ وَ اِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ
allaziina yuzhoohiruuna mingkum min nisaaa`ihim maa hunna ummahaatihim, in ummahaatuhum illal-laaa`ii waladnahum, wa innahum layaquuluuna mungkarom minal-qouli wazuuroo, wa innalloha la'afuwwun ghofuur


"Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun."
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 2)


وَالَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْ نِّسَآئِهِمْ ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا قَالُوْا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَآسَّا ۗ ذٰ لِكُمْ تُوْعَظُوْنَ بِهٖ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
wallaziina yuzhoohiruuna min nisaaa`ihim summa ya'uuduuna limaa qooluu fa tahriiru roqobatim ming qobli ay yatamaaassaa, zaalikum tuu'azhuuna bih, wallohu bimaa ta'maluuna khobiir


"Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 3)


فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَآسَّا ۗ فَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَاِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا ۗ ذٰلِكَ لِتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِیْمٌ
fa mal lam yajid fa shiyaamu syahroini mutataabi'aini ming qobli ay yatamaaassaa, fa mal lam yastathi' fa ith'aamu sittiina miskiinaa, zaalika litu`minuu billaahi wa rosuulih, wa tilka huduudulloh, wa lil-kaafiriina 'azaabun aliim


"Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih."
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 4)


Setelah turunnya ayat-ayat tersebut, Khaulah kemudian segera bergegas untuk menemui Rasulullah untuk kembali membicarakan tentang kafarat (tebusan) dari zhihar yang harus ia dan suaminya tanggug.

Rasulullah bersabda : ”Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan budak.” Kemudian Khaulah berkata : “Ya Rasulullah, ia tidak memiliki seorang budak pun yang dapat di merdekakannya.” Lalu Rasulullah bersabda : “Kalau demikian, perintahkan kepadanya untuk berpuasa selama 60 hari (dua bulan berturut-turut).” Ya Rasulullah, ia bukanlah lelaki yang mampu untuk berpuasa”, kata Khaulah. Rasulullah bersabda : ”Perintahkan kepadanya untuk memberi makan kurma kepada 60 orang yang miskin.” Khaulah berkata lagi : Ya Rasulullah. Demi Allah.. Ia tidak memiliki makanan sebanyak itu. “Rasulullah bersabda : “Kalau begitu, aku akan membantunya dengan setengahnya .” Khaulah berkata : “Aku akan membantunya dengan memberikan setengahnya.” Setelah itu, Khaulah melaksanakan perintah Rasulullah.

Nasehat khaulah binti Tsa'labah pada umar bin khattab

Khaulah merupakan salah satu perempuan yang aduannya di dengar oleh Allah swt. Ia hanya memohon dan meminta kepada Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang ia sembah. Demikianlah seharusnya kita sebagai seorang muslim dan muslimat dalam menghadapi suatu masalah dan cobaan yang diberikan pada kita.
Pada suatu hari ketika Umar bin Khattab sedang berjalan bersama dengan Al-Jarud Al-Abdi . Khaulah binti Tsa’labah tiba-tiba menghentikan langkah beliau, kemudian Khaulah berkata : “Wahai Umar.. Aku telah mengenalmu, ketika engkau masih bernama Umair (nama Umar sewaktu masih kecil) yang menggembala kambing. Waktu telah berlalu begitu lama sehingga engkau telah menjadi seorang khalifah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah. Barang siapa yang takut akan siksaan Allah, maka yang jauh akan menjadi dekat. Barang siapa yang takut mati, maka ia akan kehilangan. Barang siapa yang yakin akan adanya hisab (perhitungan amal) maka ia akan takut kepada azab Allah.” Umar pun hanya bisa tertunduk mendengarkan nasihat yang telah diberikan oleh Khaulah.
namun Al-Jarud merasa sangat heran dengan apa yang dilihatnya dan ia merasa harus segera bertindak untuk menghentikan perkataan dari Khaulah, Al-Jarud berkata, “Wahai wanita, Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin.” kemudian Umar segera menegur Al-Jarud “Biarkan dia berbicara. Tahukah kamu siapakah wanita ini.?” Umar menjelaskan kepada Al-Jarud bahwa wanita mulia itu adalah Khaulah binti Tsa’labah. “Allah mendengarkan perkataan wanita mulia ini dari langit ketujuh. Oleh karena itu, Umar pun berhak mendengarkan perkataannya.”

Karena kesalihahannnya, Khaulah sangat dihormati di kalangan para sahabat, bahkan Khalifah Umar bin Khattab pun juga berkenan mendengarkan nasihat Khaulah dengan penuh rasa hormat.
Posting Komentar

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan