REVIEW JURNAL KONTRIBUSI BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJ



REVIEW JURNAL KONTRIBUSI BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJA


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Kepribadian
Semester VIII (Delapan) Tahun 2018
Dosen Pengampu : Dr. Saliyo, S.Ag, M.Si
                                                   


 REVIEW JURNAL KONTRIBUSI BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJA



Disusun Oleh :
Purnomo   (1410120067)
                                                                        















 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
PRODI PAI
2018

REVIEW JURNAL

A.    Identitas Jurnal
1.      Judul                            

KONTRIBUSI BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJA

2.      Jurnal
INSAN: Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental
3.      Key words
pemaafan, syukur, kesehatan mental
4.      Nama Penulis
Rahmat Aziz, Esa Nur Wahyuni, Wildana Wargadinata
5.      Jabatan Penulis
Rahmat Aziz           : Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Esa Nur Wahyuni     : Mahasisiwa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Bakhtaruddin                : Mahasiswa Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri    Maulana Malik Ibrahim Malang

6.      Departemen Penulis         
Universitas Islam Negeri    Maulana Malik Ibrahim Malang
7.      Tahun, Volume dan Halaman
2017, Vol. 2 No.1 , Halaman 33-43
8.      Jenis Penelitian
          Ada tiga jenis skala yang digunakan untuk mengukur tiga variabel dalam penelitian ini. Dua skala tentang syukur dan pemaafan tidak dilakukan pengujian reliabilitas karena merupakan skala yang diadaptasi dari skala sebelumnya yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, sedangkan skala kesehatan mental dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas karena merupakan alat ukur hasil modifikasi (mengurangi, menambahi dan merubah) aitem dari skala Mental Health Inventory.     
Kesehatan mental diartikan sebagai terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya dan lingkungannya. Data ini diperoleh melalui alat ukur modifikasi penulis terhadap alat ukur Mental Health Inventory (MHI-38) yang telah dibuat oleh Veit dan Ware (1983). Aspek yang diungkap oleh alat ukur ini adalah kondisi kesehatan mental positif (perasaan positif secara umum, kondisi emosional atau rasa cinta, dan kepuasan hidup) dan kondisi kesehatan mental negatif (kecemasan, depresi, dan hilangnya kontrol perilaku dan emosi). Alat ukur ini berupa skala likert yang jawabannya berupa pilihan dengan enam alternatif jawaban.
9.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji besarnya kontribusi pemaafan dan syukur terhadap kesehatan mental di tempat kerja. Partisipan penelitian diambil dari karyawan dan dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sebanyak 167 orang melalui teknik pengambilan sampel proposional. Instrumen yang digunakan yaitu Skala pemaafan, skala syukur, dan Inventori Kesehatan Mental (MHI) (α=.888) yang telah dimodifikasi oleh penulis. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai R=.462 p<.05 dengan koefisien determinan sebesar .213. Hal ini berarti pemaafan dan syukur mampu menjadi prediktor bagi tinggi rendahnya kesehatan mental sebesar 21.3 persen.
This research aimed to investigate the contribution of forgiveness and gratitude to mental health in work setting. Research participants were 167 lecturer and faculty staff of Islamic State University of Maulana Malik Ibrahim Malang. The sample were chosen using proportional sampling technique. Research instruments were forgiveness scale, gratitude scale and modified Mental Health Inventory (MHI) (α=.888). Our research showed that R=.465 (p<.05) and determinant coefficient was .204. It implies that forgiveness and gratitude are good predictor for mental health and contributed around 20.4 percent.
B.     Ringkasan Jurnal
1.      Latar belakang penelitian (masalah)
              problem kesehatan mental di tempat kerja perlu menjadi fokus penting dan utama dalam setiap organisasi atau lembaga. Problem kesehatan mental pekerja akan dapat berdampak pada terhambatnya produktivitas pekerja, salah satu indikatornya perasaan tidak aman dan nyaman di tempat kerja, cemas, dan keengganan untuk hadir ( absenteeism). Penelitian ini berusaha untuk memberikan solusi bagi problem kesehatan mental di tempat kerja, khususnya yang berkaitan hubungan interpersonal dan konflik di tempat kerja, yaitu dengan menguji kontribusi pemaafan dan syukur terhadap kesehatan mental di tempat kerja.

2.      Core value pembahasan
              Kajian tentang produktivitas kerja sangat terkait oleh berbagai macam faktor. Salah satu faktor penting yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi produktivitas kerja adalah kesehatan mental. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Koopman, dkk. (2002) menemukan bahwa produktivitas kerja dipengaruhi oleh kesehatan mental para pekerja. Dalam penelitiannya tersebut, Koopman, dkk. (2002) menemukan adanya hubungan yang sangat erat antara kedua variabel tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam menciptakan budaya organisasi yang efektif dan efisien.
       Ada beberapa alasan mengapa kesehatan mental menjadi isu penting dalam dunia kerja. Danna dan Griffin (1999) menyatakan alasan pentingnya kesehatan mental di tempat kerja, yaitu; pertama, pengalaman individu baik fisik, emosional, mental, atau sosial akan mempengaruhi bagaimana individu di tempat kerja. Kedua, kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting karena akan menumbuhkan kesadaran terhadap faktor-faktor lain yang menimbulkan resiko bagi pekerja. Misalkan, karakteristik tempat kerja yang mendukung keamanan dan kesejahteraan bagi pekerja, potensi ancaman kekerasan atau agresi di tempat kerja (kekerasan seksual dan bentuk-bentuk perilaku disfungsional lainnya), bahkan hubungan antara pimpinan dan bawahan yang berimplikasi pada kesehatan mental. Ketiga, kesehatan mental menjadi bagian penting karena kesehatan yang rendah akan mempengaruhi kinerja.
Memperkuat pernyataan di atas, hasil survei terhadap usia kerja di beberapa negara maju seperti di Australia dan Amerika menunjukkan saat ini diperkirakan satu dari enam usia kerja mengalami kondisi mental yang bermasalah (Harvey, 2014). Kondisi mental yang bermasalah ditenggarai telah menjadi penyebab tingginya angka ketidakhadiran (absence) dan ketidakmampuan ( incapability) kerja yang menjadi penyebab rendahnya performan dan produktivitas di tempat kerja.
3.      Hasil Penelitian
        Hasil uji normalitas dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov pada variabel kesehatan mental ditemukan skor z sebesar .456 dengan nilai p sebesar .985 (p>.05), variabel syukur ditemukan skor z sebesar 1.704 dengan nilai p sebesar .006 (p<.05), variabel pemaafan ditemukan skor z sebesar 1.191 dengan nilai p sebesar .117 (p>.05). Hasil analisis analisis selengkapnya dapat di lihat Tabel 5 berikut ini:


Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Sebaran


Kesehatan
Syukur
Pemaafan


Mental





N
167
167
167

Kolm-Smirnov Z
.456
1.704
1.191

Asy Sig.(2-tailed)
.985
.006
.117
Hasil uji linearitas dengan menggunakan teknik analysis of variance (ANOVA) diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 6. Hasil Uji Linearitas Hubungan
                    

Variabel yang diuji
F
Nilai p





Syukur dengan kesehatan mental
6.973
.010

Pemaafan dengan kesehatan mental
16.529
.000

         Hasil pengujian normalitas di atas menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel kesehatan mental dan pemaafan dinyatakan normal (p>.05), sedangkan variabel kemampuan syukur dinyatakan tidak normal (p<.05). Hasil pengujian linearitas di atas menunjukkan bahwa semua hubungan variabel yang diuji dinyatakan linear (p<.05).
         Berdasarkan hasil pengujian deskriptif ditemukan bahwa variabel penelitian kesehatan mental dan syukur mempunyai rerata empiris yang lebih tinggi dibandingkan dengan rerata hipotetiknya. Artinya kondisi partisipan pada ketiga variabel tersebut berada pada kategori tinggi. Sebaliknya untuk variabel pemaafan mempunyai rerata empiris yang lebih rendah dibanding rerata hipotetisnya. Artinya kondisi partisipan pada variabel tersebut berada pada kategori rendah. Untuk melihat perbandingan rerata hipotetis dan empiris dapat di lihat pada Tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Deskripsi Skor Partisipan Penelitian

Nama Variabel
Skor Rerata

Hipotetis
Empiris


Kesehatan Mental
60
136.04
a.
Tekanan psikologis
30
36.47
b.
Kesejahteraan psikologis
30
38.01
Pemaafan
45
54.65
Kemampuan syukur
15
20.80

         Hasil perbandingan rerata empiris dan hipotetis terhadap tiga variabel pada tabel di atas menunjukkan, secara keseluruhan rerata empiris kesehatan mental yang diperoleh partisipan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata hipotesisnya (136.04 : 60) artinya tingkat kesehatan mental partisipan berada pada kategori tinggi. Sedangkan dilihat dari setiap aspek kesehatan mental menunjukkan 1) rerata empiris kesehatan mental aspek tekanan psikologis yang diperoleh partisipan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata hipotesisnya (36.47 : 30) artinya tingkat tekanan psikologis partisipan berada pada kategori tinggi. Begitu juga rerata empiris kesehatan mental aspek kesejahteraan psikologis yang diperoleh partisipan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata hiipotesis (38.01 : 30) artinya tingkat kesejahteraan psikologis partisipan berada pada kategori tinggi. Rerata empiris pemaafan yang diperoleh partisipan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata hipotesisnya (54.65 : 45) artinya tingkat pemaafan partisipan berada pada kategori tinggi. Hal yang sama juga terlihat pada rerata empiris syukur yang diperoleh partisipan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata hipotesisnya (20.80 : 15) artinya tingkat syukur partisipan juga berada pada kategori tinggi.
         Hasil analisis regresi tentang pengaruh pemaafan dan syukur terhadap kesehatan mental menunjukkan nilai R=.462 dengan koefisien determinan sebesar .213 namun setelah dilakukan penyesuaian (adjusted R squre) koefisien korelasinya berubah menjadi .204. Hal ini berarti pemaafan dan syukur mampu menjadi prediktor sebesar 20.4% bagi tinggi rendahnya kesehatan mental. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa syukur dan pemaafan berpengaruh terhadap kesehatan mental adalah diterima, semakin tinggi syukur dan pemaafan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kesehatan mentalnya, dan sebaliknya semakin rendah syukur dan pemaafan seseorang maka semakin rendah pula tingkat kesehatan mentalnya.
   Selanjutnya, hasil analisis hubungan antara pemaafan dengan kesehatan mental menunjukkan korelasi sebesar β=.279 (p<.05) dan syukur dengan kesehatan mental menunjukkan korelasi sebesar β=.292 (p<.05). Ini berarti variabel syukur mempunyai pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel pemaafan terhadap tinggi rendahnya kesehatan mental di tempat kerja.
4.      Kesimpulan
        Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bersyukur dan memaafkan mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan kesehatan mental. Bersyukur mempunyai peran yang lebih besar dalam mengembangkan kesehatan mental di tempat kerja dibandingkan dengan pemaafan. Hal itu berarti bahwa untuk mengembangkan kesehatan mental di tempat kerja maka yang harus dilakukan adalah dengan mulai mengembangkan kemampuan bersyukur terhadap semua karunia yang di terima, setelah itu berusahalah untuk mampu memaafkan terhadap semua kesalahan baik diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.
        Dengan adanya berbagai keterbatasan dalam penelitian ini, maka ada beberapa saran yang disampaikan pada peneliti lebih lanjut dalam upaya untuk lebih memahami dan upaya preventif dalam mengembangkan kesehatan mental di tempat kerja. Perlu dicari desain penelitian yang lebih memadai dalam upaya pemahaman terhadap kesehatan mental. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak variabel baik bebas maupun mediator yang dapat berfungsi untuk menjelaskan faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental. Selain itu, perlu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap instrumen penelitian, khususnya pada variabel pemaafan dan syukur. Karena kedua variabel tersebut tidak dilakukan pengujian validitas dan reliabilitasnya.
        Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, sehingga memiliki keterbatasan dalam penggalian dan penyampaian data. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan untuk meneliti tema ini dengan pendekatan kualitatif (baik melalui observasi, wawancara, maupun FGD) atau menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan eksperimental sehingga mampu menguji hubungan kausalitas yang lebih memadai serta ditemukan model pelatihan yang mampu mengembangkan kesehatan mentaldi tempat kerja.
C.    Review Jurnal
                     Jurnal dengan 11 halaman ini membahas tentang pengaruh rasa syukur dan pemaafan pada tingkat rendah atau tingginya kesehatan mental dikalangan Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Hasil tersebut memperkuat pendapat Kulcsár (2006) yang menyatakan bahwa pemaafan selalu berhubungan dengan kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Maltby, Day, dan Barber (2004) menemukan bahwa pemaafan berkorelasi dengan aspek-aspek kesehatan mental, demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti lain selalu menemukan hal yang sama.
              Selanjutnya, hasil penelitian yang menguji variabel syukur menunjukkan bahwa secara positif syukur juga mempengaruhi tinggi rendahnya kesehatan mental daitempat kerja. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa syukur dapat menjadi faktor prediktor bagi kesehatan mental pekerja (Lanham, Rye, Rimsky, & Weill, 2012; Park, Peterson, & Seligman, 2004).
              Ada beberapa alasan mengapa syukur dapat meningkatkan kesehatan mental di tempat kerja, yaitu syukur dapat mengurangi perasaan bosan yang biasanya menjadi pemicu stres bagi para pekerja serta meningkatkan kepuasan bekerja (Lanham, dkk., 2012), mendorong perilaku prososial di tempat kerja (Bartlett & DeSteno, 2006; Bono, Emmons, & McCullough, 2004; McCullough, Tsang, & Emmons, 2004), memotivasi orang untuk bekerja sama dan bertanggung jawab secara sosial (Andersson, Giacalone, & Jurkiewicz, 2007) dan memberikan persepsi positif di tempat kerja (Watkins, Grimm, & Kolts, 2004). Secara moral, syukur dapat menstimulasi orang untuk berprilaku moral, yaitu perilaku yang memotivasi untuk menghargai dan memahami orang lain seperti empati dan simpati (McCullough, Kilpatrick, Emmons, & Larson, 2001). Syukur dapat memlihara hubungan interpersonal yang harmonis (Algoe, Haidt, & Gable, 2008). Perilaku-perilaku tersebut akan menciptakan suasana yang nyaman bagi hubungan interpersonal dan menimbulkan emosi positif yang merupakan bagian dari konstruk syukur.
              Bila hasil analisis dicermati, akan diketahui bahwa dibandingkan pemaafan, kontribusi syukur terhadap kesehatan mental di tempat kerja lebih besar skornya yaitu antara pemaafan dengan kesehatan mental menunjukkan korelasi sebesar β=.279 (p<.05) dan syukur dengan kesehatan mental menunjukkan korelasi sebesar β=.292 (p<.05). Ini berarti variabel syukur mempunyai pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel pemaafan terhadap tinggi rendahnya kesehatan mental di tempat kerja. Kondisi tersebut dapat dijelaskan dengan memahami beberapa aspek dari karakteristik pemaafan dan syukur Dari aspek sumber atau pemicu, pemaafan muncul karena ada orang (transgetor) atau peristiwa yang melukai atau menyakiti sehingga menimbulkan emosi negatif (Madsen , dkk., 2009; Worthington & Scherer, 2004; Kulcsár, 2006). Sedangkan syukur muncul karena adanya peristiwa atau pemberi baik dari Tuhan atau orang (benefactor) yang menimbulkan emosi positif yaitu perasaan kagum, kesenangan, dan harapan (Bono , dkk., 2004, Emmons & Mishra, 2011).
              Dalam praktek kehidupan sehari-hari, kita sering lupa untuk selalu bersyukur, dan memaafkan kesalahan orang yang mendzolimi kita, mensyukuri atas semua nikmat yang Allah berikan merupakan perintah Allah yang banyak terkandung dalam Al-qur’an seperti : (QS. Al-Baqarah ayat 52, QS. Al-Baqarah ayat 172, QS. Al-Baqarah ayat 185 dll.) untuk itulah setelah mengkaji jurnal ini, diharapkan kita bisa selalu belajar untuk mensyukuri sekecil apapun nikmat yang telah Allah berkikan pada kita dan mememaafkan kesalahan orang lain terhadap kita, agar kesehatan mental kita selalu terjaga dan bisa melakukan aktivitas kerja maupun belajar dengan lebih tenang dengan perasaan yang nyaman.
D.    Kritik dan Saran
Kritik
.........................
Saran
.......................

Postingan Serupa

15.08 - tanpa komentar

0 komentar untuk REVIEW JURNAL KONTRIBUSI BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJ.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan