MAKALAH SEKOLAH DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN



SEKOLAH DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Disusun guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Rukhaini Fitri Rahmawati, M.Pd.I

SEKOLAH DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN 
Disusun Oleh:
1.   Abdul Rokib                           NIM: 1410120060
2.   Mustaqim                                NIM: 1410120061
3.   Durrotun Nashihah                 NIM: 1410120063
4.   Indriani Nurlita Putri              NIM: 1410120065
5.   Purnomo                                  NIM: 1410120067

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH PRODI  PAI
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pada zaman globalisasi ini seluruh dunia dituntut untuk mengikuti program pemerintah salah satunya adalah pendidikan, yang merupakan sebagai inti dari suatu Negara agar dapat mengalami kemajuan. Setiap pendidikan ini memiliki cirri khas tertentu pada setiap Negara, yang mana ada penekanan khusus pada kebijakan pendidikan yang ada di Negara tersebut.
Pendidikan merupakan suatu lembaga yang mana dia memiliki visi dan misi serta tujuan yang harus dicapai untuk memajukan peserta didik, adapun ini telah tertuang pada fungsi dari sekolah itu sendiri yaitu untuk member bekal peserta didik apabila mereka sudah lulus, memberikan ketrampilan bagi penguat pembuatan usaha, memberikan ilmu pengetahuan bagi peserta didik serta yang paling utama adalah mengajarkan nilai dan norma yang telah berlaku di sekolah agar mampu berinterasi dengan baik di masyarakat nantinya.
Melalui fungsi  inilah masyarakat menyandarkan harapannya untuk memasukkan anaknya agar mereka dapat merubah ananya menjadi ana yang berkualitas, untuk itu semua harapan masyarakat ini harus lebih direalisasikan pada dunia pendidikan.
Kebudayaan atau kebiasaan sekolah dan komponen-komponen di dalamnya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pola perilaku anak didik, terutama dalam proses belajar mengajar. Ternyata apa yang dihayati oleh siswa seperti sikap dalam belajar, sikap terhadap kewibawaan, dan sikap terhadap nilai-nilai tida berasal dari kurikulum sekolah yang formal melainkan berasal dari kebudayaan atau kebiasaan yang mereka lihat dan hayati setiap harinya di sekolah tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian dari sekolah dan sosiologi pendidikan itu?
2.      Bagaimana pengertian, dan peran atau tugas dari guru dan sosiologi pendidikan?
3.      Bagaimana sosiologi anak didik?
4.      Bagaimana interaksi edukatif di sekolah?










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sekolah dan Sosiologi Pendidikan
Sekolah berasal dari bahasa Belanda school, bahsa Jerman die scrule, yang artinya sekolah, yaitu suatu lembaga pendidikan. Jadi sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merukapan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar kata sekolah maka yang terbayang adalah bangunan fisik dengan keseragaman relative sama. Kedua, sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunaan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan “anak saya bersekolah di …”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan “sekolah” maa yang terbayang adalah proses pendidikan itu sendiri.[1]
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga sekolah diartikan sebagai sebuah organisasi yaitu organisasi social yang mempunyai struktur tertentu yang sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan, karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah, tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat di dalamnya serta tujuan, program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan, lama watu penyelenggaraan, dan pendekatan yang digunakan.
Fungsi dan peran sekolah dalam proses sosialisasi yaitu mempersiapkan seseorang agar menjadi warga dewasa dalam bermasyarakat, diselenggarakan terutama melalui proses pendidikan dalam kelas dalam melaksanakan fungsi ini sekolah bekerjasama dengan keluarga, lingkungan, organisasi, dan lembaga-lembaga lain yang hidup di masyarakat. Kerjasama itu mungkin tidak dilaksanakan secara formal, meskipun tidak tertutup kemungkinan memformalkannya. Akan tetapi, selama anak atau pemuda berstatus pelajar, sekolahnyalah yang dipandang sebagai sosialisasi terpenting. Sekolah yang harus bertanggung jawab mengenai hasil proses sosialisasi anak sebelum menjadi pelajar di sekolah tersebut dan proses sosialisasi yang berlangsung diluar sekola selama yang bersangkutan masih menjadi pelajar di sekolah tersebut. Sebagaimana diketahui sosialisasi meliputi internalisasi nilai-nilai social cultural, norma-norma, dan peran-peran social.[2] Peran-peran itu dikategorisasikan dalam dua kelompok, yaitu peran-peran yang dilakukan dengan kompetendi “teknis” yang berarti mahir dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dan kompetensi social yang berkenaan dengan hubungan orang lain.
B.     Guru dan Sosiologi Pendidikan
Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, pengajar/ pendidik dan sebagai pegawai. Yang paling utama adalah kedudukannya sebagai pengajar/ pendidik. Berdasarkan kedudukannya guru harus menunjukkan kelakuan yang layak menurut harapan masyarakat sesuai dengan tuntunannya dalam aspek etis, intelektual dan social. Guru sebagai pendidik dan pembina generasi muda harus menjadi tauladan di dalam maupun luar sekolah. Guru harus senantiasa sadar akan kedudukannya selama 24 jam sehari. Dimanapun dan kapanpun ia akan selalu dipandang sebagai guru yang harus memperlihatkan kelakuan yang dapat ditiru oleh masyarakat, khususnya peserta didiknya.[3]
Kedudukan guru ditentukan oleh fakta bahwa ia orang dewasa. Dalam masyarakat kita yang lebih tua harus dihormati. Berdasarkan usianya yang lebih tua dari murid maka guru mempunyai kedudukan yang harus dihormati, apalagi karena guru sebagai oengganti orang tua, begitu sebaliknya guru harus dapat memandang murid sebagai anaknya.
Ada anggapan bahwa pada era modern ini rasa hormat siswa terhadap guru semakin merosot. Erosi kewibawaan guru mungkin disebabkan oleh peranan siswa dalam revolusi kemerdekaan yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing, oleh sikap kritis siswa, oleh ketidakmampuan guru mempertahankan kedudukan yang dipegangnya.
Dalam situasi formal, yani dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam kelas, guru harus sanggup menunjukkan kewibawaan atau otoritasnya, artinya guru harus mampu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol kelakuan anak bahkan seorang guru diperbolehkan menggunakan kekuasaannya. Adapun jenis-jenis kekuasaan guru sebagai berikut:[4]
1.      Kekuasaan Koersif
2.      Kekuasaan keahlian
3.      Kekuasaan informasi
4.      Kekuasaan rujukan
5.      Kekuasaan legal
Peranan guru dalam hubungan nya dengan murid memerlukan kewibawaan yang menjadi syarat mutlak dalam mendidik. Pendidikan akan berlangsung bila ada keputusan dari pihak anak dan kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila pendidik memiliki kewibawaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin. Adanya kewibawaan guru dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, anta lain:
1.      Anak-anak mengharapkan guru yang berwibawa, yang dapat bertindak tegas untuk menciptaan suasana disiplin dan mereka mengakui kewibawaan itu.
2.      Guru dipandang sebagai pengganti orang tua, sehingga lebih mudah menerima kewibawaan guru jiika anak tersebut di rumahnya terbiasa mematuhi orang tuanya.
3.      Pada umumnya tiap orang tua mendidik ananknya agar patuh kepada guru,
4.      Guru memelihara kewibawaannya dengan menjaga jarak social dengan murid.
5.      Kewibawaan yang sejati diperoleh guru berdasarkan kepribadiannya sendiri.
Pada satu pihak guru harus bersikap otoriter, dapat mengontrol kelakuan murid, dapat menjalankan kekuasaannya menciptakan suasana disiplin demi tercapainya suasana hasil belajar yang baik. Di lain pihak guru harus mampu menunjukkan sikap bersahabat dan dapat bergaul dengan murid dalam suasana akrab. Guru yang berpengalaman dapat menjalankan peranannya menurut situasi social yang dihadapinya.
Bewtapa pentingnya peranan guru di sekolah dimana anak didik sebagai calon warga Negara Indonesia paripurna itu di TCkan, aan jelas dari banyanya julukan yang diberikan kepadanya seperti:
a.       Suri tauladan dalam sikap, ucapan, tingkah laku yang dewasa, baik mental maupun spiritual.
b.      Director of leraning : pemberi arahan dalam proses perunbahan tingkah lau si anak didik.
c.       Inovator : penyebar dan pelaksana ide-ide baru demi peningkatan mutu pendidikan/pengajaran
d.      Motivator: penggali, pemupuk, pengembang motivasi, mengapa anak-anak didik itu harus belajar dengan giat dsb.
e.       Condctor of learning: guru seolah-olah seorang dirigen suatu orkes atau mengusahaan dengan petunjuk-petunjuknya.
f.       Manager of learning: melakukan pengawasan atas anak didiknya.
Dalam interaksi anatara guru dan murid terjadi proses pendidikan dan proses sosialisasi bagaimana respon atau reaksi murid terhadap berbagai tipe kelakuan guru. Hubungan antara guru dengan murid banyak ragamnya bergantung pada guru, murid serta situasi yang dihadapi. Tiap guru mempunyai hubungan yang berbeda menurut pribadi dan situasi yang dihadapi.
Kepribadian guru terbentuk atas pengaruh kode kelakuan seperti yang diharapkan oleh masyarakat dan sifat pekerjaannya. Guru harus menjalankan peranannya menurut kedudukannya dalam berbagai situasi social. Kelakuan yang tidak sesuai dengan peranan akan mendapatkan kecaman dan harus dielakkannya. Sebaliknya kelakuan yang sesuai akan dimantapkan dan norma-norma kelakuan akan diinternalisasikan dan menjadi suatu aspek dari kepribadiannya.
Dalam situasi kelas guru menghadapi sejumlah murid yang harus dipandangnya sebagai anaknya. Sebaliknya murid-murid akan memperlakukannya sebagai bapak atau ibu guru. Berkat kedudukannya maka guru didewasakan, dituakan sekalipun menurut usia yang sebenarnya belum pantas menjadi orang tua.
Orang tua murid akan memandang guru sebagai partner yang setaraf kedudukannya dan mempercayakan anak mereka untuk diasuh oleh guru.
Respon murid terhadap aktifitas guru selain mengajar tidak membawa pengaruh terhadap prestasi belajar. Yang mampu menjadi daya tarik bagi siswa adalah guru yang bersahabat atau guru yang demokratis-integratif. Guru tipe tersebut akan mudah bekerjasama dan cenderung tidak menimbulkan konflik.
C.    Sosiologi Anak Didik
Proses Sosial pada masyarakat  pada dasarnya akan memngarahkan juga masalah proses sosialisasi pada anak usia dini. Hal ini cukupp beralasan karena anak merupakan bagian dari masyarakat dan sebagai objek penting dalam proses sosialisasi. Proses sosialisasi merupakan aspek pendidikan yang penting dalam perubahan sosial. Proses sosialisasi tunduk pada suatu hokum pelajaran yaitu pelajaran sosial. Proses sosialisasi berlaku semenjak kanak-kanak masih bayi. Agen pada masa itu adalah ibu bapak. Ada faktor penting yang mempengaruhi proses sosialisasi anak yaitu sikap (attitude) ibu bapak terhadap apa yang diperbuat , dikatakan dan diperintahkan.[5]
Dalam hal kaitannya dengan sosialisasi anak didik, bahwa anak didik yang datang di sekolah tentu memiliki latar belakang yang berbeda, dengan perbedaan inilah yang menuntut para peserta didik untuk selalu belajar mengenal, menghayati kebudayaan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut. Sebagai contoh siswa yang dirumah yang jarang bersosialisasi, dirumah karena orang tua jarang pulang atau orang tua memiliki banyak kesibukan diluar rumah atau bahkan orang tua selalu mendampinginya disetiap hari, begitu siswa di sekolah tentu akan berbeda dengan di sekolah siswa harus berlaku berbeda dengan di rumah. Baik dengan sesama siswa maupun dengan guru yang mengakibatkan sebuah hubungan interaksi antar sesama.
Menurut pandangan Kimball Young , sosialisasi ialah hubungan interaktif yang dengannya seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural yang menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat[6]
Dengan berbagai penjelasan di atas dapat diberi pemahaman bahwa sosialisasi anak didik merupakan sebuah proses pembelajaran anak didik disekolah mengenai pembentukan sikap, tingkah laku, komunikasi dan nilai sosial antar sesama anak didik maupun kelompok masyarakat yang berada dilingkungan sekolah.
Sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi proses perlakuan dan bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau norma-norma kehidupan bermasyarakat. Proses membimbing yang dilakukan oleh orangtua tersebut disebut proses sosialisasi. Proses sosialisasi dapat berlangsung melalui kelompok sosial yang terbentuk dari keluarganya, teman sepermainan, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat sekitar. Pendapat ini lingkungan sekolah termasuk salah satu tempat proses sosialisasi anak didik, yang dijadikan sebuah sistem dan didalamnya terdiri dari subsistem yang saling berkaitan dengan subsistem yang lainnnya, artinya sekolah memiliki keterkaitan dengan subsistem yang lainnya yaitu termasuk orang tua siswa, masyarakat yang berada dilingkungan sekolah, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, dalam sosialisasi anak, terdapat sejumlah media sosialisasi yakni:
a.                   Keluarga, yang merupakan orang pertama yang mengajarkan hal-hal yang berguna bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia adalah anggota keluarga. Orang tua atau keluarga harus menjalankan fungsi sosialisasi. Fungsi sosialisasi merupakan suatu fungsi yang berupa peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak. Melalui fungsi ini, keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat, serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan kelak.
b.                  Teman sepermainan dan sekolah, yang merupakan lingkungan social kedua bagi anak setelah keluarga, dalam kelompok ini anak akan menemukan berbagai nilai dan norma yang berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga. Melalui lingkungan sekolah dan teman sebaya anak mulai mengenal harga diri, citra diri dan hasrat pribadi
c.                   Lingkungan kerja, yang merupakan proses sosialisasi lanjutan. Tempat kerja seorang mulai berorganisasi secara nyata dalam suatu system. Sejumlah hal yang perlu dipelajari dalam lingkungan kerja, misalnya bagaimana menyelesaikan pekerjaan, bagaimana bekerjasama dengan bagian lain, dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan kerja.
d.                  Media massa, yang merupakan sarana dalam proses sosialisasi karena media banyak memberikan informasi yang dapat menambah wawasan untuk memahami keberadaan manusia dan berbagai permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Media massa merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk mendapatkan informasi. Melalui media, seorang dapat mengetahui keadaan dan keberadaan lingkungan dankebudayaan, sehingga dengan informasi tersebut dapat menambah wawasan seseorang.[7]
D.    Interaksi Edukatif di Sekolah
Interkasi edukatif dapat diartikan sebagai suatu aktivitas relasi berbagai elemen edukatif, baik pendidik, staf administrasi, maupun anak didik. Istilah interaksi pada umumnya adalah suatu hubungan timbal balik antara individu satu dengan individu yang lain yang terjadi pada lingkungan masyarakat atau selain lingkungan masyarakat. Mereka dengan bersama-sama memiliki kesadaran dalam menciptakan suatu iklim pendidikan dan pembelajaran disekolah untuk menghasilkan sumberdaya manusia (anak didik) yang berkualitas dan handal  sesuai perkembangan zaman.
Berarti interaksi edukatif adalah hubungan timbal balik yang sengaja dilakukan antara murid dan guru, murid dengan murid, serta dengan tenaga edukatif lainnya, dalam rangka kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapapai tujuan pendidikan yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi bawaan anak didik agar menjadi manusia dewasa yang sempurna sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, ajaran agama dan bangsa.
Dalam perspektif pedagogik, anak didik mempunyai sebuah potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kebutuhan anak di atas disebut homo educandum. Potensi anak didik yang bersifat laten tersebut dapat di akutualisasikan agar anak didik tidak lagi di sebut lagi sebagai animal aducable, sejenis binatang yang memungkinkan dididik, tetapi harus dianggap sebagai manusia,. Sebagai manusia, anak didik memiliki potensi akal yang harus di kembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang bersusila dan berkecakapan sebagai modal kehidupan nyata.[8]
Dalam melaksanakan interaksi anak didik yang perlu diketahui pendidik, dengan melihat ciri tertentu sebagai individu, baik dari segi fisik maupun psikis dalam perkembangan dan pertumbuhanya. Setidaknya ada tiga aspek tentang karakteristik anak didik.
a.                   Perbedaan biologis, diana anak didik memiliki jasmani yang tidak sama kendatipun dari satu keturunan yang sama.
b.                  Perbedaan intelektual, yang merupakn salah satu aspek yang slalu aktual untuk di perbicarakan karna ikut menentukan keberhasilan pembelajaran. Whiteringtton (1984) mengatakan bahwa seseorang dikatakan inteligen bila yang bersangkutan memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan cepat tanpa mengalami suatu masalah. Seorang yang sulit beradaptasi dikatakan tidak inteligen.Gambaran hasil tes inteligensi dinamakan inteligence quotient (IQ). Perbedaan individual pada aspek inteligensi ini perlu dipahami pendidik, terutama pertalian dengan pengelompokan anak didik di kelas. Anak yang kurang cerdas di kelompokan pada anak yang level cerdasnya sama dengannya, agar yang bersangkutan terpacu untuk kreatif dalam belajar. Pendidik juga, dengan cara ini, diharapkan lebih mudah memberikan bimbingan tentang cara belajar yang baik.
c.                   Perbedaan psikologis, dimana setiap anak didik berbeda secara lahir dan batin. Untuk memahami anak didik, seorang pendidik dapat melakukan pendekatan secara individual. Dengan memerhatikan kebutuhan anak didik, seorang pendidik dapat melakukan bimbingan dengan baik dan tepat guna memberi motivasi anak dalam belajar. Sukses tidaknya dalam proses pendidikan dan pembelajaran edukatif disekolah, salah satunya, sangat di tentukan pendidik.
Kemampuan pendidik berperan signifikan dalam mencerdaskan anak bangsa  inilah yang akan memberikan corak kehidupan generasi masa depan. Pendidik (guru dan dosen) secara formal merupakan pejabat profesional. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa banyak pendidik itu dalam tugasnya belum memberikan kepuasan kepada masyarakat dengan optimal.
Peranan pendidik dalam kaitannya dengan anak didik, tampak bermacam-macam berdasarkan situasi interaksi sosial-edukatif dihadapinya. Interaksi sosial-edukatif dimaksudkan seperti situasi formal dalam proses pembelajaran dikelas  maupun dalam situasi informal diluar kelas. Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak didik dalam kelas, pendidik diharapkan dapat memperlihatkan kewibawaan dan otoritasnya, dimana pendidik harus dapat mengendalikan, mengatur, dan mengontrol perilaku anak didik.
Adanya suatu kemajuan proses interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik, lebih ditentukan kompetensi pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik sebagai pengembang kurikulum (curriculum developer)  di kelas, memiliki peranan terdepan terhadap pelaksanaan pembelajaran dikelas. Interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik ditunjukkan pula adanya interaksi timbal balik (mutual symbiosis) antara keduanya.
Tugas dan peranan seorang pendidik sesungguhnya begitu komplek yang tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di kelas, dalam proses pembelajaran. Seorang pendidik juga berfungsi sebagai administrator, evaluator, konselor, fasilitator, motivator, komunikator, dan lain sebagainya. Dikatakan pula bahwa sanya peranan seorang pendidik berarti totalitas tingkah laku yang harus dilakukanya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik (guru). Pendidik memiliki peran yang komprehensif, baik disekolah, keluarga dan masyarakat.
Menjadi seorang pendidik yang efektif dalam proses pembelajaran yang mengedepankan interaksi edukatif, diperlukan cara-cara membangun berdasarkan kegiatan edukatif fundamental dalam rutinitas proses pembelajaran.dalam upaya mendorong proses pembelajaran edukatif dengan optimal, ada sejumlah prinsip interaksi edukatif yang perlu diketahui pendidik yaitu:
a.                   Prinsip motivasi, dimana pendidik perlu memahami tingkat motivasi anak didik berbeda satu sama lainya.
b.                  Prinsip berawal dari presepsi yang dimiliki. pendidik diharapkan menyadari atas anak didik yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda.
c.                   Prinsip mengarah pada focus tertentu, bahwa pelajaran yang direncanakan dalam suatu bentuk dan pola tertentu dengan terfocus diharapkan akan mampu menghubungkan bagian-bagian terpisah dalam kegiatan pembelajaran.
d.                  Prinsip keterpaduan, dimana salah satu kontribusi pendidik dalam pembelajaran adalah menghubungkan suatu pokok bahasan dengan bahasan yang lain mata pelajaran yang berbeda.
e.                   Prinsip pemecahan masalah.
f.                   Prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan.
g.                  Prinsip belajar sambil bekerja.
h.                  Prinsip hubungan sosial, dimana anak didik dilatih untuk terbiasa bekerja sama dengan anak-anak kelas lain dalam kelas.
i.                    Prinsip perbedaan individual,dimana anak didik memiliki perbedaan satu sama lain, baik biologis, intelektual, dan psikologis.
Prinsip-prinsip edukatif dalam pembelajaran diatas, akan membantu pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Sudah barang tentu, prinsip-prinsip ini hanya dapat dilakukan oleh pendidik yang senantiasa aktif, kreatif, dan memiliki motivasi serta mencintai profesinya sebagai pendidik. Seorang pendidik profesional dipastikan dapat memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip interaksi edukatif dengan optimal.
Interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik yang diharapkan dapat tercapai dengan optimal apabila adanya kesadaran pendidik bahwa tugas mulia dalam mengajar dan mendidik anak didik sifatnya komprehensif. Melaksanakan tugas sebagai pendidik haruslah dipahami sebagai tugas mencerdaskan anak didik yang memerlukan keteladanan baik dalam maupaun di luar sekolah.
Produk final dari interaksi edukatif di sekolah (formal) dan di luar sekolah (informal) adalah menginginkan keberhasilan anak didiknya. Sukses tidaknya anak didik lebih ditentukan oleh kualitas seorang pendidik.
Interaksi  edukatif hanya dapat tercipta apabila seseorang pendidik tidak hanya memiliki kompetensi dan profesional  dalam proses pembelajaran. Seorang pendidik juga perlu memahami dimensi sosio psikologis anak didik dimana akan mempengaruhi sukses tidaknya anak didik dalam pembelajaran. Permasalahan intrinsik dan ekstinsik anank didik memerlukan pengerian dan motivasi tulus dan ikhlas dari para pendidik, agar anak didik memiliki semangat atau motivasi unggulan dalam belajar dan meraih proses pencapaian cita-cita yang didambakan.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai tempat belajar mengajar yang merupakan kebutuhan setiap orang mendapatkan pendidikan dan yang mempengaruhi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan perkembangan secara optimal.
2.      Peranan guru dalam situasi formal memiliki otoritas kekuasaan agar mampu mengendalikan, mengatur, dan mnegontrol kelakuan siswa.
3.      Sosialisasi anak didik merupakan sebuah proses pembelajaran anak didik disekolah mengenai pembentukan sikap, tingkah laku, komunikasi dan nilai sosial antar sesama anak didik maupun kelompok masyarakat yang berada dilingkungan sekolah.
4.      Interaksi edukatif adalah hubungan timbal balik yang sengaja dilakukan antara murid dan guru, murid dengan murid, serta dengan tenaga edukatif lainnya, dalam rangka kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapapai tujuan pendidikan yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi bawaan anak didik agar menjadi manusia dewasa yang sempurna sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, ajaran agama dan bangsa.














DAFTAR PUSTAKA

Ahmad.2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang. UNNES Press.
S.Nasution.2010. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara
Ibid, hlm 91
Mahmud, Psikologi Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia,2010), hlm 293-294
Khoiriyah, Menggagas Sosiologi Pendidikan Islam, Yogyakarta : Penerbit Teras, 2014,hlm 81
Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan (Indivifu, Masyarakat danPendidikan), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 99.
Ibid, hlm 112-113
Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif       di Sekolah. Edisi Revisi. Jakarta:  Rineka Cipta.2014. Hlm 51.



[1] Ahmad.2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang. UNNES Press.
[2] S.Nasution.2010. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara
[3] Ibid, hlm 91
[4] Mahmud, Psikologi Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia,2010), hlm 293-294
[5]Khoiriyah, Menggagas Sosiologi Pendidikan Islam, Yogyakarta : Penerbit Teras, 2014,hlm 81
[6]Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan (Indivifu, Masyarakat danPendidikan), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 99.
[7]Ibid, hlm 112-113
[8]Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif       di Sekolah. Edisi Revisi. Jakarta:  Rineka Cipta.2014. Hlm 51.

Postingan Serupa

15.09 - tanpa komentar

0 komentar untuk MAKALAH SEKOLAH DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan