Nilai-nilai pluralisme dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam (studi analisis isi terhadap buku ajar SKI MA)


Nilai-nilai pluralisme dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan

Nama    : Zulkifli Darwis
Kelas    : B_1LK
Nim    :1410120058
Makul    : Materi dan Pembelajaran SKI Mts/MA
Dosen    : Ibu Rochanah, M.Pd.I
Nilai-nilai pluralisme dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam
A.    Identitas Jurnal
   
1.    Judul            : Nilai-nilai pluralisme dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan
  Islam (studi analisis isi terhadap buku ajar SKI MA)

2.    Key words        : Nilai-nilai Pluralisme, SKI, buku ajar SKI MA.

3.    Nama Penulis    : Lilik Suparno
4.    Jabatan Penulis    : -
5.    Departemen penulis : -
6.    Nama Jurnal        : Nilai-nilai pluralism dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan
 Islam (studi analisis isi terhadap buku ajar SKI MA)
7.    Vol/No/Tahun    : Vol VI no. 1 2009
8.    Jenis Penelitian    : Artikel
9.    Tujuan Penelitian    : Menganalisa konsep dan nilai-nilai pluralitas dalam buku ajar SKI MA

B.    Ringkasan Jurnal
1.    Latar Belakang Masalah
Realitas kehidupan sosial keagamaan akhir-akhir ini terusik oleh berbagai  konflik  dan  pertikaian.  Manusia  berebut  kebenaran dengan berbagai dalil keagamaan, sehingga terjadi pertikaian dan  konflik dengan mengatasnamakan  pembelaan terhadap agama. Realitas demikian bukanlah hal yang aneh mengingat kondisi sosialogis masyarakat  yang sangat beragam. Kehidupan manusia dengan demikian lebih  diwarnai oleh kenyataan pluralistik dari  pada kenyataan tunggal.Pluralisme adalah fakta yang selalu dialami oleh  manusia. Dalam berbagai kasus pelanggaran dan pencederaan terhadap pluralisme yang terjadi di masyarakat, misalnya; pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan yang intensitasnya semakin meningkat, diskriminasi  terhadap kelompok-kelompok  minoritas  semakin  marak, klaim atas kebenaran dan keyakinan yang disertai pemaksaan kehendak melalui kekerasan, dan  ancaman terhadap  kelompok lain  semakin biasa terjadi di masyarakat
Perlu digarisbawahi bahwa pluralisme bukan lagi sekedar ide yang cukup  diperbincangkan  dalam  wacana  intelektual  melainkan  sebuah agenda  yang   harus  diperjuangkan  melalui  aksi   bersama.  Hal   penting dalam  hal   ini   adalah  upaya   memberikan  kesadaran  penuh   kepada masyarakat untuk  memahami perbedaan-perbedaan yang   ada  di sekelilingnya. Upaya efektif  untuk membangun kesadaran tersebut yaitu dengan   pendidikan.   Pendidikan   Islam    diarahkan   untuk   mengatasi masalah-masalah  yang   dihadapi  oleh   umat  pada  umumnya  dan   umat islam  pada khususnya.
Salah  satu upaya   Pendidikan   Agama   Islam     (PAI)    untuk memberikan kontribusi nyata dalam membangun kesadaran bertoleransi dan  sikap hidup rukun dalam perbedaan yaitu dengan membangun kesadaran sejarah  perkembangan umat Islam.   Kesadaran sejarah  sangat penting,  sebab   tanpa  itu   umat  Islam   tidak  dapat  menentukan  masa depannya sendiri dan  selalu tergantung pada rekayasa orang lain,  yang dapat  saja   menyesatkan.  Dalam  Pendidikan  Agama  Islam,   kesadaran sejarah tersebut dapat dibangun melalui pembelajaran Sejarah  Kebudayaan Islam  (SKI).
Dalam hal  ini  untuk mencapai tujuan  dalam proses pembelajaran
harus didukung oleh faktor-faktor yang  dapat mempengaruhi keberhasilan antara lain  guru yang  kompeten dan  fasilitas yang  mendukung. Fasilitas yang    mendukung   pembelajaran   sampai   sekarang   masih   memegang peranan penting adalah buku pelajaran.Buku  pelajaran merupakan salah satu   sarana yang   harus ada  dalam pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam   (SKI).  Belajar  berdasarkan  masalah yang   nyata akan memberikan pengalaman yang  tinggi nilainya bagi siswa.
Melihat kenyataan demikian, jika  pluralisme adalah kenyataan yang tak  terbantahkan dan  pendidikan selama ini kurang mengakomodir pluralisme dalam kurikulum. Maka  untuk penanaman dan  pengembangan nilai-nilai pluralisme kepada peserta didik diperlukan cara-cara efektif  dan relavan yang  tujuannya untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memahami, dan  toleransi antar sesama kepada peserta didik baik di dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat maka telaah buku ajar SKI untuk Madrasah Aliyah terhadap nilai-nilai pluralisme ini menjadi penting.

2.    Core Value Pembahasan
Konsep Pluralitas
Secara teoritis pluralisme  budaya diperkenalkan oleh Nathan Glazer dan  Daniel Moynihan secara  umum teori  ini menekankan bahwa :
(1) Dalam masyarakat multikultur harus ada  sikap pluralisme. Jalan utama   menuju   pluralisme   adalah   asimilasi   antaretnik,  
(2) Dalam pluralisme, kita akan berhadapan dengan etnogenesis atau rangkaian proses penciptaan perbedaan antaretnik. Berdasarkan perbedaan itu, disatu pihak kita  mengadaptasi satu  budaya ke budaya lain,  namun dipihak lain kita menemukan diskriminasi antaretnik.
Sementara itu,  John  Gray  dalam Singelis  mengatakan bahwa pada dasarnya  pluralisme  mendorong  perubahan  cara   berfikir  yang   sangat penting sekali  untuk mencegah klaim  yang  meletakkan kebenaran mutlak dalam keragaman kebudayaan yang di dalamnya terkandung perbedaan pemikiran.
Dalam Islam, pluralitas yang dibangun  diatas tabiat asli, kecenderungan individual, dan perbedaan masing-masing pihak masuk dalam kategori fitrah yang telah  digariskan oleh  Allah  swt  bagi  seluruh manusia.
AlQur’an misalnya mengakui adanya  keanekaragaman tersebut, dan  konsep tentang kemajemukan ini  sangat mendasar dalam Islam.  Al Quranul Karim  menyebutkan hal  itu  sebagai satu  ayat  (tanda kekuasaan) dari  ayat-ayat Allah  swt  dalam system kemasyarakatan  manusia.Allah swt berfirman dalam QS. Ar Ruum: 22:
Artinya: Dan  di  antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan  langit  dan   bumi  dan   berlain-lainan  bahasamu  dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang  demikan itu  benar-benar terdapat tanda-tanda bagi  orang-orang yang   mengetahui. (QS.  Ar Ruum: 22)


Nilai-Nilai Pluralitas Dalam Budaya Dan Agama
Dalam kehidupan sosial, pluralitas dan keberagamaan antara bangsa- bangsa,suku(etnis), dan ras seringkali juga menimbulkan ketegangan dan konflik dalam pola interak siantar individu maupun kelompok yang dilatar belakangi oleh ideologi politik,kesukuan,budayaserta kepentingan kekuasaan.Sejarah mencatat bahwa perebutan kekuasaan dan pengaruh (politik)antar suku, bangsa,dan  kabilah  telah  terjadi sejak dari  dulu.
Agama sebagai sebuah sistem nilai  pada dasarnya tidak  berdiri sendiri melainkan bersanding dengan yang lain.Dengan kata lain  agama kemudian berhadapan dengan fenomena pluralitas budaya yang berserak. Sesungguhnya dimanapun Islam melakukan pergumulan dengan budaya lokal, akan ada proses adaptas inilai-nilai universalitasnya pada situasi dan kondisi tertentu.Sifat  inilah yang menjadika nIslam sebagai agama yang akomodatif. Islam tidak pernah mengikis habis ide-ide pra Islam, budaya, dan tradisi yang hidup yang terjadi di Indonesia , melihat realita tersebut di atas maka relasi  agama dan  kebudayaan diarahkan  kepada upaya membangun rekonsiliasi kultural.Rekonsiliasi kultural yakni rekonsiliasi yang mempertimbangkan hak-hak kultural masyarakat lokal. Terutama menyangkut  relasi agamadan budaya lokal.
Sebagai   sistem  kepercayaan  dan   sistem   peribadatan,  agama berperan penting dalam menciptakan tatanan kehidupan yang berkeadilan dan beradab bagi seluruh umat  didunia.Dalam perjalanan umat manusia, agama-agama menjadi sumber motivasi dan inspirasi yang tidakpernah kering,bahkan ia terus   berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia.Namun, agama-agama seringkali dipahami secara sempit dan eksklusif oleh penganutnya,disertai perasaan curiga yang berlebihan terhadap penganut agama lain. Akibatnya sepanjang  sejarah, dunia mencatat terjadinya berbagai macam konflik antar agama yang hingga kini terus membayangi kehidupan umat beragama.Oleh karenaitu, prinsip utama dalam mengelola pluralisme adalah inklusifisme. Dalam menjalani kehidupan ditengah keragaman agama,keyakinan, serta aliran- aliran kepercayaan penting untukditerapkan sikap yang menghargai dan menghomati hak-hak individu atau komunitas umat beragama seperti hak kebebasan memeluk agama,  beribadah menurut keyakinan,hak  untuk mendapatkan keadilan dari pemerintah sebagai modal untuk membangun kebersamaan dalam keragaman.

3.    Pembahasan

Aplikasi Nilai-Nilai Pluralisme Dalam  Pembelajaran SKI  di Sekolah/Madrasah Aliyah


Beberapa penjelasan tentang nilai-nilai pluralisme yang  menyangkut masalah agama, budaya, politik dan  pemikiran di  atas  merupakan suatu pelajaran yang  harus dapat diolah, didiskusikan, didialogkan dengan permasalahan  yang   berkembang  saat   ini,  terutama  di  Indonesia.  Mata pelajaran sejarah kebudayaan islam , sebagai bagian integral dari pendidikan agama islam  mempunyai peranan penting untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kepada  peserta  didik  agar   lebih   mengerti permasalahan pluralisme yang  berada di sekelilingnya.
Peserta  didik  merupakan  aset   terpenting  bagi   masyarakat  danbangsa untuk melakukan deskripsi persoalan, pemetaan masalah, dan menemukan cara  penyelesaian masalah-masalah yang  sedang terjadi serta mampu melakukan perubahan signifikan dalam masyarakat. Untuk melakukan tugas itu,  penanaman kesadaran pluralistik terhadap peserta didik merupakan suatu keharusan yang  harus dilakukan oleh  pemegang otoritas kebijakan pendidikan (pemerintah), pendidik (guru), dan  tentunya masyarakat   sendiri.   Sebab    pluralitas   merupakan   bagian   yang    tak terpisahkan dari  bangsa Indonesia.
Perkembangan sosial  keagamaan masyarakat yang  sekarang berada dalam titik  nadir yang  ditandai dengan banyaknya konflik yang  berlatar belakang  agama,  aliran  kepercayaan,  budaya,  dan    politik.  Persoalan demikian  memerlukan  perhatian  penuh  dari   pemerintah  untuk menciptakan sistem pendidikan yang  akomodatif terhadap permasalahan pluralisme    dan     menciptakan   kehidupan    sosial     keagamaan    yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan  dan   persatuan antar komponen warga  negara. Pemerintah berkewajiban  untuk  menciptakan kurikulum yang   tanggap  dengan  masalah-masalah  masyarakat.  Sehingga wacana pendidikan  pluralitas  tidak  hanya  dalam  angan-angan  tapi   terealisasi dalam pendidikan secara  nyata di lembaga pendidikan.
Selain  pemerintah, para pendidik juga  mempunyai peran penting untuk  menanamkan nilai-nilai pluralisme kepada  anak   didik. Disinilah profesionalisme para pendidik diterapkan. Kreatifitas dan  inovasi dari  para pendidik dalam mengelola pembelajaran yang  diterapkan di  dalam kelas menjadi tuntutan yang  harus dilakukan oleh  para pendidik untuk menjelaskan dengan nalar kritis  persoalan-persoalan pluralisme secara komprehensif. Langkah untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme (seperti yang  telah  dijelaskan pada pembahasan sebelumnya) kepada peserta didik salah   satunya  dengan  pembuatan  Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP) SKI yang  mengakodasi pluralisme. Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  peserta didik tidak hanya dijelaskan tentang kronologi dari  sejarah Islam  namun peserta didik harus ditunjukkan kepada sebuah peristiwa sejarah yang  mempunyai sensitifitas masalah pluralism
Sebab  dalam Sejarah  Kebudayaan Islam,  peristiwa-peristiwa seperti pergolakan politik, peperangan dan  bentuk-bentuk kemajuan dalam Islam tidak hanya sebagai rantai sejarah.  Namun ada   latar   belakang masalah yang  menyebabkan peristiwa-peristiwa itu terjadi. Sehingga kesadaran berfikir peserta didik akan  tergiring pada pertanyaan “mengapa” peristiwa itu   terjadi   dan    tidak  hanya  terpaku  pada  pertanyaan  “bagaimana” peristiwa itu  terjadi. Menumbuhkan nalar kritis  terhadap sejarah menjadi sangat penting sekali  untuk lebih  arif dan  bijaksana dalam melihat sejarah. Pluralitas  dalam   segala  aspek  yang    dimiliki  oleh   bangsa  Indonesia menuntut    perhatian,    analisa,   dan     pengamatan    yang     tajam     dan komprehensif dari  semua komponen bangsa termasuk pendidikan.
Upaya  merefleksikan dan   internalisasi  nilai-nilai  pluralisme  dari sejarah  Islam   kepada  setiap  individu  merupakan  langkah  yang   bijak, inovatif dan  kreatif untuk memecahkan permasalahan sekarang dan memperbaiki segala kesalahan dalam membangun peradaban Islam  yang lebih  maju.  Membangun peradaban, syaratnya ialah  adanya inovasi, dan kreativitas di segala bidang. Terutama bidang pendidikan yang  merupakan aspek  terpenting  dari   segala  usaha  dalam  mencerdaskan  bangsa  dan Negara.
Upaya  merefleksikan dan   internalisasi  nilai-nilai  pluralisme  dari sejarah  Islam   kepada  setiap  individu  merupakan  langkah  yang   bijak, inovatif dan  kreatif untuk memecahkan permasalahan sekarang dan memperbaiki segala kesalahan dalam membangun peradaban Islam  yang lebih  maju.  Membangun peradaban, syaratnya ialah  adanya inovasi, dan kreativitas di segala bidang. Terutama bidang pendidikan yang  merupakan aspek  terpenting  dari   segala  usaha  dalam  mencerdaskan  bangsa  dan Negara.

4.    Kesimpulan

Nilai-nilai pluralisme dalam buku ajar  Sejarah  Kebudayaan Islam dan  aplikasinya terhadap pembelajaran Sejarah  Kebudayaan Islam  di sekolahan/madrasah, sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Pendidikan Islam   sudah  saatnya memperkaya diri   dengan berbagai inovasi pendidikan dengan mengembangkan nilai-nilai pluralisme yang terkandung dalam mata pelajaran Sejarah  Kebudayaan Islam  dan  atau senantiasa mencari konsep baru yang  mampu digunakan sebagai acuan dalam pendidikan.
b. Pembelajaran  SKI  di  Madrasah Aliyah sudah  saatnya menjadi  salah satu  media yang  efektif  bagi  para pendidik untuk menanamkan nilai- nilai   pluralisme  kepada  anak   didik  dengan  memaksimalkan penggunaan buku ajar SKI.
c. Pembelajaran SKI di Madrasah Aliyah  dalam praktiknya, sudah seharusnya  mampu  menanamkan kesadaran  kritis terhadap sejarah; suatu model pembelajaran yang  membebaskan mencerdaskan dan menyadarkan peserta didik terhadap realitas kehidupan yang dihadapinya. Dengan  halini,diharapkan peserta mampu menjawab probematikaumatd. Penelitian mengenai penggalian nilai-nilai pluralisme ini  belum menemukan hasil  yang  final,  namun masih dalam kesementaraan. Oleh karena itu,  terdapat banyak celah  yang  bisa  diteliti dan  dikembangkan lebih  jauh,  terutama terkait dengan penerapan pendidikan yang akomodatif terhadap pluralisme dalam era  ini dan  implikasinya dalam pengembangan pendidikan Islam.


5.    Hasil Analisis Jurnal
Dari beberapa point yang dimuat dalam penelitian diatas , berikut inilah tanggapan dan analisis yang bisa penulis uraikan :
Dalam konsep pluralisme manusia diciptakaan atas dasar perbedaan dari segi apapun dan manapun, manusia didunia ini tidak ada yang sama satu dengan yang lain, yang sama dari mereka adalah hak-haknya, harkat dan martabatnya sebagai mahkluk di hadapan Allah, tetapi justru dari perbedaan-perbedaan yang bersifat fisik dan perbedaan keyakinan itu yang sering membuat mereka bersengketa dan menjadikannya suatu alasan untuk memunculkan suatu masalah.
Memang dalam kehidupan bermasyarakat, pluralisme sering menjadi persoalan sosialyang sering ditimbulkan sebelumya, karena implikasi tersebut tentu saja sangat kongtras dengan nilai dasar dan etnis tiap agama, karena dapat dikatakan secara sederhana bahwa semua agama mengajarkan nilai persamaan, keadilan, keadulatan individu dan sebagainya. Dan semua agama memiliki penafsiran tersendiri untuk memperjels rumusan-rumusan normative dan nilai-nilai tersebut.
Masyarakat pluralis yang dimaksud adalah masyarakat yang telah hidup dalam kontek pluralisme agama.Konsep pluralisme sendiri merupakan suatu sikap saling mengerti, memahami dan menghormati adanya perbedaan-perbedaan demi tercapainya kerukunan antar umat beragama. Dalam sosisologis masyarakat Indonesia , pluralisme tidak dapat hanya dipahami sebatas kenyataan masyarakat dengan keberagamaan agamanya. Dalam konteks relaasi masyarakat yang kompleks, memahami pluralisme merupakan kunci untuk memahami realitas kehidupan yang merupakan hasil kontruksi setiap individu dan komunitas sosialnya yang memliki kontruksi sosial sendiri-sendiri. Pada kondisi seperti ini sebaiknya pluralisme diapahami sebagai sebuah kerangka interaksi yang memungkinkan perbedaan dapat berada bersama tanpa yang satu ingi menghilangkan yang lain bahkan dapat bersama membangun persahabatan dan pertemanan.
Dengan demikian , pluralisme yang diamksud dalam penelitian diatas adalah pluralisme agama dengan masyarakat yang memiliki pandanagn bahwa pluralisme agama bukanlah kenyataan yang mengharuskan mereka untuk saling menjatuhkan, saling merendahkan, atau mencampuradukkan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya . akan tetapi justru menempatkan diri pada posisi saling menghormati, saling mengakui sikap pluralisme agama yang demikian diharapkan akan menumbuhkan sikap masyarakat yang saling mengerti dan saling memahami adanya perbedaan-perbedaan demi tercapainya kerukunan antar umat beragama. Dan dengan sikap seperti itu ummat islam diharapkan tetap menjaga kekokohan iman dan agamanya .
Terhadap nilai-nilai pluralisme yang terkandung dalam buku ajar SKI Madrasah Aliyah salah satunya yakni tentangawal mula masuknya Islam ke Indonesia yaitu

a.    Bab  Walisongo
-    Dalam kisah walisongo terkandung nilai-nilai pluralisme yang dikisahkan pada kerajaan Demak , adanya pernyataan bahwa sebagai Negara islam dibangunlah sebuah masjid yang merupakan perpaduan antara budaya islam dengan budaya hindu . ini menggambarkan bahwasanya islam sangat toleran terhadap agama lain seperti hindu , sehingga bangunan tersebut diperpadukan antara budaya islam dan budaya hindu . ini juga mengajarkan kepada peserta didik untuk saling toleransi dan menghargai budaya agama lain.
-    Pada kerajaan Mataram Islam
Dalam kepemimpinannya Sultan Agung juga berusaha menampilkan dan menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan islam , secara tidak langsung ini juga mengajarkan sikap toleransi pada peserta didik .

b.    Bab Muhammadiyah
-    Ide Dasar Pemikiran K.H Ahmad Dahlan
Gagasan pemikiran untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia, tidaklah dilakukan dengan langkah yang bisa memicu ketersinggungan terhadap pemerintahan Hindia Belanda yang sedang berkuasa , pada tanggal 7 mei 1921 K.H Ahmad Dahlan  mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah , permohonan ini dikabulkan pada tanggal 2 september 1921. Dari pernyataan diatas bahwasanya K.H Ahmad Dahlan sangat mmenghormati dengan keadaan dengan bukti bahwa melakukan penyebaran agama melalui izin dulu dengan pemerintahan yang saat itu agama hindu
   
c.    Bab Nahdlatul Ulama
-    Meneladani sikap intelektual dan semangat keIslaman K.H Hasyim Asyari
Dalam pernyataan tingginya nasionalisme dan semangat juang melwawan penjajahan dan kebudayaan barat yang bertentangan dengan kebudayaan bangsa Indonesia dan Islam.Meskipun dengan demikian tepat kiranya kita harus menghormati antar kebudayaan barat jka kebudayaan barat tidak menganggu kebudayaan yang kita miliki.


Postingan Serupa

12.20 - tanpa komentar

0 komentar untuk Nilai-nilai pluralisme dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam (studi analisis isi terhadap buku ajar SKI MA).

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan