MACAM DAN MODEL EVALUASI KURIKULUM

MACAM DAN MODEL EVALUASI KURIKULUM

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah:Pengembangan Kurikulum PAI
Dosen Pengampu: Muhtarom, M.Pd
 

MACAM DAN MODEL EVALUASI KURIKULUM 




Di susun oleh :
1.      Muhammad Alfun Nuha                     (1410120073)
2.      Zulkifli Darwis                                    (1410120058)
3.      Nadia Durrotul Hikmah                      (1410120041)

                       

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
JURUSAN TARBIYAHPROGRAM STUDI PAI
TAHUN 2017

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum sangat penting bagi masyarakat.Karena masyarakatlah harus menyerap lulusan sekolah sebagai hasil kurikulum yang telah mereka jalani dan mutu masyarakat banyak bergantung pada mutu kurikulum.Orang tua semua terlibat dalam baik buruknya kurikulum sekolah karena nasib anak mereka, masa depannya, perkembangannya sebagai manusia banyak ditentukan oleh kurikulum. Kepuasan atau lebih sering ketidakpuasan mereka tentang  kurikulum sering mereka suarakan dalam surat-surat kabar.
Tidak diragukan lagi bahwa evaluasi kurikulum memiliki peranan yang sangat penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan formal. Melalui evaluasi kurikulum kemajuan efektifitas mengajar guru dapat diukur, prestasi siswa dapat dipantau dengan lebih cermat, dan bagi pengembang kurikulum dapat memanfaatkan hasil evaluasi untuk perbaikan kurikulum di masa yang akan datang. Dalam pelaksanaannya para evaluator kurikulum banyak memakai berbagai model evaluasi kurikulum yang sudah banyak dikembangkan saat ini. Ada model yang mencakup keseluruhan proses pengembangan kurikulum tetapi ada juga yang memiliki fokus khusus pada suatu fase kegiatan pengembangan kurikulum. Ada juga macam-macam evaluasi kurikulum.
Makalah ini mencoba memaparkan macam-macam evaluasi kurikulum dan model-model evaluasi kurikulum serta yang dapat dipilih untuk diterapkan demi kemajuan yang hendak dicapai, baik oleh guru sebagai pelaksana maupun pemerintah sebagai pengembang kurikulum.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian evaluasi kurikulum ?
2.      Apa tujuan adanya evaluasi kurikulum ?
3.      Apa saja macam-macam evaluasi kurikulum ?
4.      Ada berapa macam model-model evaluasi kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Evaluasi Kurikulum
Evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria.[1] Evaluasi juga diartikan sebagai kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu.[2] Sedangkan menurut Marrison evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan.[3]
Pengertian kurikulum sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan.”
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.Mengevaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti juga mengevaluasi kurikulumnya.Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum merupakan bagian dari evaluasi pendidikan, yang memusatkan perhatiannya pada program-program untuk peserta didik.Kurikulum sebagai program belajar untuk belajar siswa perlu dievaluasi sebagai bahan balikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, anak didik serta perkembangan ilmu dan teknologi.Hasil evaluasi kurikulum bermanfaat bagi penentu kebijakan dalam menentukan keputusan untuk melakukan perbaikan ataupun perubahan kurikulum.[4]
Evaluasi kurikulum tidak hanya mengevaluasi hasil belajar peserta didik dan proses pembelajarannya, tetapi juga rancangan dan pelaksanaan kurikulum, kemampuan dan kemajuan siswa, sarana dan prasarana, serta sumber belajarnya.
B.     Tujuan Evaluasi Kurikulum
Tujuan evaluasi kurikulum diantaranya :
a.       Perbaikan Program
Dalam konteks tujuan ini, peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif, karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan di dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan. Disini evaluasi lebih merupakan kebutuhan yang datang dari dalam sistem itu sendiri karena evaluasi itu dipandang sebagai faktor yang memungkinkan dicapainya hasil pengembangan yang optimal dari sistem yang bersangkutan.
b.      Pertanggung jawaban kepada berbagai pihak
Selama dan terutama pada akhir fase pengembangan kurikulum, perlu adanya semacam pertanggungjawaban dari pihak pengembang kurikulum kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang dimaksud mencakup baik pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum tersebut maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan. Dengan kata lain, pihak-pihak tersebut mencakup pemerintah, masyarakat, orang tua, petugas-petugas pendidikan, dan pihak-pihak lainnya yang ikut mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum yang bersangkutan.Bagi pihak pengembang kurikulum, tujuan yang kedua ini tidak dipandang sebagai suatu kebutuhan dari dalam melainkan lebih merupakan suatu ‘keharusan’ dari luar. Sekalipun demikian hal ini tidak bisa kita hindari karena persoalan ini mencakup
Pertanggungjawaban sosial, ekonomi dan moral, yang sudah merupakan suatu konsekuensi logis dalam kegiatan pembaharuan pendidikan.
Dalam mempertanggung jawabkan hasil yang telah dicapainya, pihak pengembang kurikulum perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang sedang dikembangkan serta usaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan, jika ada, yang masih terdapat. Untuk menghasilkan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan tersebut di atas itulah diperlukan kegiatan evaluasi.
c.       Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban atas dua kemungkinan pertanyaan :
Pertama, apakah kurikulum baru tersebut akan atau tidak akan disebar luaskan ke dalam sistem yang ada.
Kedua, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara yang bagaimana pula kurikulum baru tersebut akan disebar luaskan ke dalam sistem yang ada.
Ditinjau dari proses pengembangan kurikulum yang sudah berjalan, pertanyaan pertamadipandang tidak tepat untuk diajukan pada akhir fase pengembangan. Pertanyaan tersebut hanya mempunyai dua kemungkinan jawaban ya atau tidak.Secara teoritis dapat saja terjadi bahwa jawaban yang diberikan itu adalah tidak. Bila hal ini terjadi, kita akan dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan biaya,tenaga dan waktu  yang telah dikerahkan selama ini ternyata terbuang dengan percuma.
Peserta didik yang telah menggunakan kurikulum baru tersebut selama fase pengembangan telah terlanjur dirugikan, sekolah-sekolah dimana proses pengembangan itu berlangsung harus kembali  menyesuaikan diri lagi kepada cara lama; dan lambat laun akan timbul sikap kurang percaya di kalangan orang tua dan masyarakat terhadap pembaharuan pendidikan dalam bentuk apapun.
Pertanyaan kedua dipandang lebih tepat untuk diajukan pada akhir fase pengembangan kurikulum. Pertanyaan tersebut mengimplikasikan sekurang- kurangnya tiga anak pertanyaan – aspek-aspek mana dari kurikulum tersebut yang masih perlu diperbaiki ataupun disesuaikan, strategi penyebaran yang bagaimana yang sebaiknya ditempuh, dan persyaratan-persyaratan apa yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu di dalam sistem yang ada. Pertanyaan-pertanyaan ini dirasakan lebih bersifat konstruktif dan lebih dapat diterima ditinjau dari segi sosial, ekonomi, moral maupun teknis.  Untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan yang kedua itulah diperlukan kegiatan evaluasi.[5]
C.    Macam-Macam Evaluasi Kurikulum
1.      Evaluasi Kurikulum Berdasarkan Bentuk Evaluen
Dalam evaluasi kurikulum bardasarkan bentuk evaluen dapat dibedakan menjadi beberapa karakteristik diantaranya:
a.       Evaluasi Konteks
Evaluasi terhadap konteks berkaitan dengan berbagai aspek yang melahirkan suatu dokumen kurikulum. dalam situasi tertentu orang melakukan evaluasi mengenai tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan dan sering disebut dengan istilah need assessment.
Selain need assessment evaluasi jenis ini adalah evaluasi mengenai kesesuaian antara ide kurikulum dengan dengan lingkungan sosial-budaya dimana kurikulum itu akan dilaksanakan.[6]
a)      Evaluasi Masukan
Maksud dari evaluasi masukan adalah kemampuan awal siswa dan sekolah dalam menunjang program, antara lain kemampuan sekolah dalam menyediakan petugas yang tepat,dan handal dalam bidangnya.


b)      Evaluasi Proses
Evaluasi proses dalam hal ini menunjuk pada “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program, dan “when”  kapan kegiatan itu akan selesai. Evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana.
c)      Evaluasi Produk atau Hasil
Evaluasi produk atau hasil diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada masukan mentah. Evaluasi produk merupakan tahap akhir dari serangkaian evaluasi.[7]
2.      Jenis Evaluasi Kurikulum Berdasarkan Posisi Evaluatornya.
1)      Evaluasi Internal
Evaluasi internal adalah evaluasi yang dilakukan oleh salah seorang anggota tim pengembang kurikulum. Dia diberi tugas khusus untuk melakukan evaluasi terhadap hasil pekerjaan yang sedang dilakukan. Oleh karena itu dia harus melakukan pekerjaan selama proses berlangsung baik ketika dalam proses konstruksi kurikulum maupun dalam implementasi kurikulum.
2)      Evaluasi Eksternal
Evaluasi eksternal dilakukan oleh seseorang yang tidak terlibat dalam tim pengembang kurikulum. Evaluator tersebut secara khusus di minta untuk melakukan evaluasi terhadap dokumen, prese atau hasil kurikulum. Kedudukannya sebagai orang luar tentu memberikan berbagai keuntungan seperti misalnya dalam hal objektivitas.[8]



D.    Model-Model Evaluasi Kurikulum
1.      Measurement
Evaluasi yang menekankan pada pengukuran perilaku siswa.Hasil evaluasi digunakan terutama untuk keperluan seleksi siswa, bimbingan pendidikan dan perbandingan efektivitas antara dua atau lebih metode pendidikan.Objek evaluasi dititikberatkan pada hasil belajar terutama dalam aspek kognitif yang dapat diukur melalui skor hasil tes.
Konsep measurement menekankan terhadap pentingnya objektivitas dalam proses evaluasi. Aspek objektivitas ini perlu dijadikan landasan dalam rangka mengembangkan konsep dan sistem evaluasi.Pendekatan yang digunakan oleh konsep ini sangat besar pengaruhnya dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti seleksi dan klasifikasi siswaa, pemberian nilai di sekolah, dan kegiatan penelitian pendidikan.
Model evaluasi ini terbatas hanya mengenai hasil belajar yang bersifat kognitif.Padahal hasil belajar yang bersifat kognitif bukanlah satu-satunya indikator bagi keberhasilan suatu kurikulum.Kurikulum diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri siswa.
2.      Congruence
Evaluasi model congruence merupakan pemeriksaan kesesuaian antara tujuan pendidikan dan hasil belajar yang dicapai, untuk melihat sejauhmana perubahan hasil pendidikan telah terjadi.Hasil evaluasi diperlukan dalam rangka penyempurnaan program, bimbingan pendidikan, dan pemberian informasi kepada pihak-pihak di luar pendidikan.Objek evaluasi dititikberatkan pada hasil belajar dalam bentuk kognitif, psikomotorik maupun sikap.
Konsep ini telah menghubungkan kegiatan evaluasi dengan tujuan untuk mengkaji efektivitas kurikulum yang sedang dikembangkan. Dengan mengkaji efektivitas kurikulum dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, hal ini akan memberikan balikan kepada pengembang kurikulum tentang tujuan-tujuan mana yang sudah dan belum dicapai.
Yang menjadi perhatian konsep ini adalah hubungan antara tujuan dan hasil belajar.Pelaksanaan evaluasi konsep ini terjadi pada saat kurikulum sudah selesai dilaksanakan.Informasi yang dihasilkan berupa tujuan-tujuan mana yang telah dan yang belum dapat dicapai.
3.      Illumination
Model evaluasi illumination yaitu studi mengenai pelaksanaan program, pengaruh faktor lingkungan, kebaikan dan kelemahan program, serta pengaruh program terhadap perkembangan hasil belajar.Evaluasi lebih didasarkan pada judgement (pertimbangan) yang hasilnya diperlukan untuk penyempurnaan program.Objek evaluasi mencakup latar belakang dan perkembangan program, proses pelaksanaan, hasil belajar, dan kesulitan-kesulitan yang dialami.
Konsep illumination menekankan pentingnya dilakukan evaluasi yang berkelanjutan selama proses pelaksanaan kurikulum yang sedang berlangsung. Konsep ini tidak menekankan pentingnya evaluasi terhadap bahan-bahan yang disusun dalam tahap perencanaan. Dengan kata lain, evaluasi ini lebih berorientasi pada proses dan hasil yang dicapai oleh kurikulum yang bersangkutan.
4.      Educational System Evaluation
Objek model evaluasi ini mencakup input (bahan, rencana, peralatan), proses, dan hasil yang dicapai.Hasil evaluasi diperlukan untuk penyempurnaan program dan penyimpulan hasil program secara keseluruhan.
Model ini ditekankan pada peranan kriteria dalam proses evaluasi yang memberikan ciri khas bagi kegiatan evaluasi. Tanpa kriteria kita tidak akan dapat menghasilkan suatu informasi yang menunjukkan ada tidaknya kesenjangan, sedangkan informasi semacam inilah yang diharapkan dari hasil evaluasi. Sehubungan dengan ruang lingkup evaluasi, konsep ini mengemukakan perlunya evaluasi itu dilakukan terhadap berbagai dimensi program, tidak hanya hasil yang dicapai, tapi juga input dan proses yang dilakukan.
5.      Model CIPP
Model ini menitikberatkan pada pandangan bahwa keberhasilan program pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya : karakteristik peserta didik, dan lingkungan, tujuan program, dan peralatan yang digunakan, serta prosedur, dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. CIPP merupakan model evaluasi dengan fokus pada contect, input, process, product. Keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan evaluasi kurikulum yang dianggap mencakup keseluruhan dimensi kurikulum.[9]

E.     Critical Thinking

Kurikulum pendidikan merupakan bahan dasar pembelajaran yang berisikan rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.

Kurikulum sebagai bahan dasar pembelajaran perlu juga adanya evaluasi . Evaluasi kurikulum mampu memberikan informasi menegenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi terhadap apa yang ingin dicapai. Evaluasi kurikulum juga dapat menyajikan bahan informasi mengenai kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaiakn menuju yang lebih baik. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak.

Evaluasi kurikulum mungkin akan  bersifat continue , karena seiring dengan perkembangan zaman yaitu berkembangnya ilmu pengetahuan dan technologi membuat sebuah kurikulum akan menjadi kuno ketika tidak mampu memberikan apa yang menjadi tuntutan jaman sekarang . Sebab itulah perlu adanya system evaluasi kurikulum untuk menemukan sebuah susunan komposisi yang pas untuk mampu menjawab sebuah tantangan jaman yang dibutuhkan lingkungan, utamanya untuk para peserta didik. 

Diharapkan kurikulum yang sudah melalui proses evaluasi  sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan dan peserta didik.Mampu memberikan dampak positif pada kehidupan bermasyarakat. Karena masyarakatlah yang menyerap lulusan sekolah sebagai hasil kurikulum yang telah mereka jalani dan mutu masyarakat banyak bergantung pada mutu kurikulum.Orang tua semua terlibat dalam baik buruknya kurikulum sekolah karena nasib anak mereka, masa depannya, perkembangannya sebagai manusia banyak ditentukan oleh kurikulum.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Kurikulum sebagai program belajar untuk belajar siswa perlu dievaluasi sebagai bahan balikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, anak didik serta perkembangan ilmu dan teknologi. Evaluasi kurikulum tidak hanya mengevaluasi hasil belajar peserta didik dan proses pembelajarannya, tetapi juga rancangan dan pelaksanaan kurikulum, kemampuan dan kemajuan siswa, sarana dan prasarana, serta sumber belajarnya.
2.      Tujuan Kurikulum
1)      Perbaikan program
2)      Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak
3)      Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
3.      Macam –Macam Evaluasi Kurikulum
·         Evaluasi Kurikulum  Berdasarkan Bentuk Evaluen
1.      Evaluasi konteks
2.      Evaluasi masukan
3.      Evaluasi proses
4.      Evaluasi produk atau hasil
·         Evaluasi Kurikulum Berdasarkan Posisi Evaluatornya
1.      Evaluasi internal
2.      Evaluasi eksternal
4.      Model-Model Evaluasi Kurikulum
1)      Measurement
2)      Congruence
3)      Illumination
4)      Educational System Evaluation
5)      Model CIPP


DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, 2009, Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sudijono Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Hamalik Oemar, 2007, Pengembangan Kurikulum, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDP, 2013, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Rajawali Press.
 Suharsimi Ari Kunto dan cepi Safrudin Abdul Jabar,2004,  Evaluasi program pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.



[1]Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 1.
[2] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003,hlm. 5.
[3]Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007, hlm.253.
[4]Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Rajawali Press, 2013, hlm. 108
[6]Ibid ,136-137.
[7]  Suharsimi Ari Kunto dan cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi program pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, I, 2004, hlm. 30-31.
[8] Ibid, 150
[9] Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran,Jakarta : Rajawali Press, 2013, hlm. 112-115.

Postingan Serupa

02.49 - tanpa komentar

0 komentar untuk MACAM DAN MODEL EVALUASI KURIKULUM.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan