Jadilah sahabatku bagian 10

Ternyata tepat seperti yang dipikirkan ridwan, sahabatnya masih terus saja murung dikamarrnya.
”pul… ayo cepat mandi…kita berangkat kuliah bersama”
“kamu berangkat saja duluan..”
“kalau aku berangkat duluan pasti kamu nggak berangkat lagi, baiklah… kalau begitu aku akan menunggumu disini sampai kamu mau berangkat berdsamaku.”
“sudahlah.. kamu berangkat saja duluan, nanti aku nyusul.”
Usaha sahabat ipul ini membuahkan hasil, karena merasa tak enak, dan tak mau menyusahkan sahabatnya ipul bergegas mandi, dan bersiap-siap berangkat kuliah.
Sebenarnya ia masih merasa canggung untuk bertemu dengan gadis bermata indah yang sekarang masih sakit hati karenanya.
“tapi wan… aku masih nggak enak sama Aisyah, aku belum siap bertemu dengannya.”.
“lalu sampai kapan kamu mau murung, dan mengurung diri dikamar? Sampai Aisyah lulus kuliah?, kamu baru mau berangkat kuliah lagi”.
“bukan begitu wan.. tapi..”.
“sudahlah jangan banyak berpikir lagi, pikirkan cita-citamu, pikirkan orang tuamu, pikirkan abangmu juga, mereka selalu berharap dan berdo’a agar semua harapan dan cita-citamu tercapai, jangan karena perempuan, kamu menghancurkan cita-citamu, yang menjadi harapan keluargamu.
Pikirkan bagaimana jika mereka tahu ternyata anak dan adik kesayangan mereka sekarang seperti ini, kamu harus bangkit dan menyelesaikan masalahmu dengan Aisyah, karena aku tak rela melihat sahabatku terus-terusan terpuruk seperti ini.”
“terimakasih wan… kau memang sahabatku yang terbaik.”.
Ipul menitihkan airmata karena menyadari bahwa semua yang dikatakan ridwan sahabatnya itu memang benar, dia harus segera menyelesaikan masalahnya, karena ia tak ingin mengecewakan.
orang tua dan abangnya yang selalu mendoakannya agar cita-citanya tercapai ia harus bisa menghadapi semua masalahnya, ia tak ingin kuliah dan masa depannya hancur hanya karena masalah yang timbul dari dirinya sendiri.
            Setelah diberi semangat dan nasehat oleh sahabatnya ipul memantapkan dirinya untuk berangkat kuliah dan mencoba menjelaskannya kepada gadis ber mata indah lagi.
Mereka berangkat beriringan dan ridwan sahabat yang selalu setia disampingnya menyempatkan diri untuk mengantarnya sampai pintu depan kelas.
“aku hanya bisa ngantar sampai sini, soalnya takut telat nih.. semngat pul… kamu pasti bisa.”.
“iya… terima kasih banyak wan..”
            Dalam kelas tampak masih agak sepi, namun gadis bermata indah sudah duduk dikursi dalam kelas, dan tiba-tiba menghampiri ipul, ketika dia baru melangkah masuk kedalam kelas dan mengajak ipul kesuatu tempat untuk mendengarkan penjelasannya.
Lelaki yang sangat dicintai Aisyah ini hanya ikut apa yang dikatakan Aisyah dan mengikutinya dari belakang, dengan penuh rasa heran, kenapa tiba-tiba gadis ber mata indah ini mengajaknya pergi, dan mau kemana sebenarnya.
Gadis bermata indah tiba-tiba menghentikan langkahnya disebuah café sebrang jalan dekat kampus, tempat biasa mereka, nongkrong, makan dan mengerjakan tugas-tugas kampus bersama, tempat mereka bercanda dan tertawa bersama.
Beberapa menit berlalu, belum ada satu kata terucap dari mereka, mereka hanya saling menundukan pandangan tak berani beradu pandang, keadaan ini membuat mereka canggung, bahkan kopi yang sudah dipesan dan dari tadi menunggu untuk diminum,hanya dianggap sebagai pengharum dan tak disentuh.
Aisyah pun mengalah dan membuka pembicaraan.
“cepatlah bicara… atau kita hanya berdiam diri saja disini?, katakanlah apa yang mau kamu jelaskan, kemarin, sahabatmu Ridwan datang menemuiku, dan mengatakan bahwa sebenarnya kamu juga menyukaiku, tapi kenapa kamu menolakku?”.
“jadi ridwan kemarin menemuimu, pantas saja dia memaksaku agar aku berangkat kuliah hari ini dan rela menungguku sampai aku berangkat kuliah bersamanya.”
“jadi, apa yang mau kamu jelaskan?, kalau sudah tak ada yang perlu dijelaskan kita kembali saja kekelas.”.
Aisyah memang masih terlihat sakit hati dan jengkel pada ipul karena cintanya ditolak dan menjadi tak sabar ingin segera mendengar penjelasan secara langsung dari lelaki yang sangat dicintainya itu, dan sedari tadi menggunakan suara bernada tinggi. Itu semua membuat ipul lebih gugup lagi, harus dari mana dia menjelaskan semuanya.
GEMPLOE...

Postingan Serupa

09.44 - tanpa komentar

0 komentar untuk Jadilah sahabatku bagian 10.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan