jadilah sahabatku bagian 1

Jadilah Sahabatku
            Haru bahagia tersimpul dari wajah wanita paruh baya ini, ketika menerima amplop kelulusan anak tercintanya, ia adalah kholilah ibu dari saiful anwar atau biasa dipanggil ipul, ia baru saja lulus SMA dan Rizal kakak ipul sudah bekerja sebagai tukang kayu. Ada rasa bangga ketika mengetahui anak tercinta  ada dalam tiga  besar peringkat kelas, namun ada juga rasa sedih dan khawatir,dalam hati berkata
“bisakah aku menyekolahlahkan anak-ku sampai kuliah, darimana aku punya uang untuk kuliahnya, untuk biaya sekolah SMA saja harus sampai berhutang ketetangga, darimana aku mendapatkan biaya kuliah anakku, gajiku sebagai buruh pabrik hanya bisa untuk keperluan sehari-hari, itu saja kadang belum cukup dan harus meminta tambahan kepada rizal, andai saja suamiku masih hidup, mungkin aku tak akan sesusah ini”.
Dengan mata berkaca-kaca wanita paruh baya ini masih tetap menatap secarik kertas kelusan yang diterimanya.
“Tok-tok-tok,… Assalamu’alaikum.. bu… ibu…”.
Suara salam dari sang anak memecah lamunan sang wanita paruh baya itu, dengan terbata-bata wanita paruh baya ini menjawab salam dari anaknya.
“Wa’alaikum salam.. kamu dari mana, kenapa sore begini baru pulang?”.
“Tadi main-main dulu bu.. biasalah.. untuk merayakan kelulusan”.
“Ya sudah cepat mandi sebelum kakakmu pulang kerja, nanti kasihan harus nunggu kamu mandinya”.
“Sebentar lagi ya bu.. lagian baru jam setengah empat, abang masih setengah jam lagi baru pulang.. ipul masih capek”.
“Cepat mandi sekarang.. ibu mau bicara sesuatu denganmu” .
“Iya deh bu..”.
Jawab ipul enteng, sambil tetap masih membanting badannya dikasur dikamarnya, yang tampak sudah lusuh dan jauh dari kata empuk apalagi nyaman, tapi memang beginilah keadaan dirumah ipul dan mayoritas penduduk desa Bawu, kecamatan batealit jepara tempat ipul tinggal memang masih berekonomi rendah karena tempatnya yang jauh dari kota dan rata-rata penduduknya adalah seorang tukang kayu, dan uang yang diadapat hanya cukup untuk membayar cicilan motor, terkadang ada sisa juga untuk ditabung sebagai persiapan nikahnya nanti, karena orang tua calon istrinya sudah sering menanyakan, kapan putrinya akan dinikahi.
            “Tok-tok-tok… pul… ipul… “
“engghhh… ada apa sih bang… ipul masih ngantuk nih..”
“cepat bangun, kamu pasti belum sholat ashar tadi ya?, ayo cepat bangun, ini sudah mau magrib, atau mau abang siram lagi”.
Dialah bang rizal, kakak ipul yang sangat baik hati, penuh perhatian, namun sangat keras jika mengenai ibadah dan tak segan-segan memarahi jika sampai adik kesayangannya ini sampai melalaikan sholatnya.
            “pul.. sini, ibu mau bicara” sang ibu memanggil ipul anak tercintanya dengan penuh kasih.
“Ibu mau bicara apa?” ipul menjawab dengan rasa penuh penasaran.
“Eghh…” .
Sang wanita paruh baya ini masih ragu-ragu, dan bingung bagaimana caranya menyampaikan kepada anak tercintanya ini, bahwa dia sudah tidak mampu lagi menyekolahkannya sampai kebangku kuliah, pastilah anaknya sangat kecewa mendengar itu semua.
“bu… ibu…”
panggil ipul memecahkan lamunan ibunya.
“ibu kok malah ngelamun sih, katanya ibu mau bicara sama ipul?”.
Dengan tertunduk wanita paruh baya ini mulai berbicara kepada anaknya,
“begini pul… sepertinya ibu sudah tidak bisa menyekolahkan kamu sampai kuliah lagi, karena keadaan kita sekaran ini yang sedang sulit, uang dari abangmu hanya cukup untuk makan kita sehari-hari, terkadang juga kita harus ngutang dulu ketetangga untuk mencukupi kebutuhan kita, ma’afkan ibu ya pul”.
Wanita paruh baya ini pun memberanikan diri untuk menatap wajah anaknya yang masih polos ini, namun dia merasa heran, karena dia malah melihat senyum manis penuh diwajah anaknya ini.
“kenapa kamu tersenyum pul?”
 Tanya wanita paruh baya ini pada anaknya penuh penasaran. Sang anak mulai berjalan mendekati ibunya, dan sungkem dihadapan ibunya, wanita paruh baya inipun makin heran, tidak seperti biasanya anaknya bertingkah seperti ini, dan banyak sekali pertanyaan yang muncul dikepalanya, ada apa sebenarnya, kenapa anak tercintanya ini bertinggah seperti ini.
Anak tercintanya mulai menjelaskan perlahan-lahan kepada ibunya, tentang beasiswa yang didapatnya, dan di juga mendapatkan kerja sampingan ditempat foto copy paman teman sekelasnya Ridwan, karena ipul sebelunya bercerita kepada ridwan tentang keinginannya pergi kekota karena mendapat beasiswa, namun ipul belum punya uang untuk keperluan dikota nanti, ridwan pun menawarkan tentang tempat foto copy pamannya yang kebetulan untuk sip kerja sore belum ada yang bekerja disana, karena pegawai yang dulu keluar, karena ridwan sudah sangat mengenal sifat dan karakter ipul yang bisa dipercaya dan jujur. setelah mengobrol dan bertanya Tanya dimana tempat dan siapa nama pemiliknya, ipul bersedia bekerja disana karena kebetulan tempatnya dekat dari kampus ipul nantinya, walaupun gajinya tidak seberapa, tapi lumayan dia bisa tinggal ditempat foto copyan itu nantinya, dan gajinya bisa untuk membantu biaya untuk keperluan buku dan yang lainnya.namun tiba-tiba mata ipul berkaca-kaca ketika menjelaskan kepada ibunya, karena kampus ipul nanti berada dikota, dan harus jauh dari ibunya, yang selama ini selalu ada bersamanya dan tak pernah terpisah untuk waktu yang lama, ipul merasa tak tega meninggalkan ibu tercintanya ini, karena alas an inilah dia belum berani mengatakan kepada ibu dan abangnya tentang hal ini. Wanita paruh baya ini pun mengerti apa yang membuat anaknya ingin menitihkan air matanya, lalu dia menasehati anaknya. “gak apa-apa pul.. kamu jangan khawatir disini ibu kan masih ada bang rizal yang selalu menjaga ibu disini, kamu harus pergi kuliah dikota, kamu kan ingin jadi guru, jadi jangan sia-siakan jalan yang diberikan ALLAH kepadamu, tapi ingat selalu pesan ibu, jika nanti kamu sudah dikota jangan sampai kau melupakan ALLAH”.
nasehat penuh kasih dari sang ibu tercinta inipun serasa merasuk langsung kedalam hatinya dan memantapkan hati ipul.
akhirnya dia memutuskan untuk jadi berangkat ke kota untuk kuliah. abang ipul yang sedari tadi menguping dari sela kamarnya pun keluar dan memecah keharuan yang terjadi dirumahnya, “iya pul… awas sampai kau meninggalkan sholat, kusiram nanti”.
“lho… bang rizal kok sudah tau, ipulkan belum cerita sama abang, pasti abang nguping tadi ya” sahut ipul agak jengkel.
“abang Cuma dengar sedikit kok… sedikit demi edikit sampai kamu selesai ceritanya, nanti kalau dikota pasti banyak gadis yang cantik-cantik, awas saja kalau sampai kamu tidak focus belajar gara-gara cewek” ledek bang rizal penuh nasehat. Inilah yang akan ipul rindukan suasana kehangatan keluarga dirumahnya, yang pastinya nanti hanya bisa pulang kalau libur saja ketika dia sudah kuliah di kota.
GEMPLOE...

Postingan Serupa

15.58 - tanpa komentar

0 komentar untuk jadilah sahabatku bagian 1.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan