NILAI FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM PADA PERAYAAN KUPATAN DIJEPARA




NILAI FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM PADA PERAYAAN HARI RAYA KUPAT/KETUPAT(KUPATAN)

Dalam tradisi jawa di bulan syawal biasanya ada dua macam hari raya(bodho), yaitu hari raya(Riyaya) lebaran(Idul fitri) dan  hari raya ketupat(Kupatan). Adapun ketupat adalah makanan khas yang bahannya dari beras dibungkus dengan selongsong yang terbuat dari janur/daun kelapa yang dianyam berbentuk segi empat (diagonal), kemudian direbus. Pada umumnya ketupat dihidangkan oleh umat muslim bersamaan dengan hari ke delapan yang atau biasa di sebut dengan “KUPATAN” atau “RIYAYA KUPAT”. dan tentunya masing-masing daerah berbeda-beda cara merayakannya. walaupun berbeda dalam hal perayaannya namun ketupat dimanapun juga, bungkusnya adalah berasal dari janur (daun kelapa), karena ada nilai filosofis tersendiri yang masih diyakini dan dipegang teguh oleh orang jawa, itulah kenapa bungkus ketupat harus dari janur.
Ada yang berpendapat bahwa Bungkus kupat yang terbuat dari janur, karena  “janur” di adaptasi dari bahasa jawa dan arab “sejatine nur” (Cahaya sejati), ini melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadlan secara pribadi-pribadi mereka kembali kepada kesucian manusia (fitrah insaniyah) yang bersih dari noda serta bebas dari dosa.
Dalam wawancara sekilas saya, saya bertanya kepada seorang teman yang bernama M.Syaifuddin(23), saya bertanya tentang kenapa disebut kupatan, dan bagaimana perayaan kupatan di pesantrennya?. Yang percakapannya adalah sebagai berikut:
Saya : gene no kang, kok mbiyen leren ono bodho kupat barang?
(kenapa yam mas, kok dahulu ada hari raya ketupat?)
Narasumber : jarene wong tuwo sih emba-embane wong tuwo jaman mbiyen, nk “Kupat” iku asale ko boso jowo “Ngaku lepat”.
(kata orang tuwa sih isyarat(perumpamaan) orang zaman dahulu, kalau “kupat” berasal dari bahasa jawa “Ngaku lepat”(mengaku salah)).
Saya : lah… kok angel-angel ngangnggo janur, asale gene?, nganggo plastik ta godong gedang ndak malah penak no kang, ogak usah pene’an mek janur.
(lah… kok susah-susah pakai janur, dulu kenapa?, pakai plastic atau daun pisang kan malah gampang mas, tidak perlu manjat ambil janur).
Narasumber : iku yho podo ae emba-embane wali jaman mbiyen, janur iku asale ko boso arab “janur” asale “jaa’a nuurun”(tumeko opo cahyo), mulakno biasane ono seng do poso nak bar bodho, wong ganjarane akeh.
(itu ya sama saja isyarat wali Zaman dulu, “janur” itu berasal dari bahasa arab “jaa’a nuurun” yang berarti telah tiba suatu cahaya, makanya biasanya banyak yang berpuasa setelah idul fitri, kan pahalanya banyak).
Saya : lah… neng pondokmu pas kupatan biasane ono acara opo kang?.
(lah… dipondokmu kalau kupatan biasanya ada acara apa mas?).
Narasumber : biasane yho angger slametan karo mangan kupat bareng-bareng neng pondok nk esok, bar do mangan teros do salam-salaman koyok pas bodho(idul fitri).
(biasanya yha Cuma slametan(do’a bersama) dan makan ketupat sama-sama dipondok kalau pagi, sehabis makan salam-salaman seperti waktu idul fitri.).

Belum puas dengan jawaban dari teman saya ini, dilain hari saya bertanya kepada teman saya yang bernama M. Nur Afif(20), yang percakapannya adalah sebagai berikut :
Saya : kupatan neng nggonmu biasane piye?.
(kupatan di tempatmu biasanya bagaimana?).
Narasumber : biasane yho do syukuran neng mesjid bar subuh, teros mangan kupat bareng-bareng.
(biasanya ya Cuma syukuran di masjid setelah subuh, terus makan ketupat sama-sama.).
Saya : Teros bar iku acarane do ngopo neh?.
(terus setelah itu ada acara apa lagi?.).
Narasumber : biasane bar iku… do lungo lomban(sedekah laut) bareng-bareng, neng kono ndelok acara ngenterno endas kebo neng tengah segoro.
(biasanya setelah itu.. pada pergi lomban(pesta para warga nelayan yang berbentuk Sedekah laut) rombongan, disana nonton acara menghanyutkan kepala kerbau di tengah laut.)

Dari wawancara kedua teman saya tadi hampir sama  seperti yang saya dengar ketika ada pengajian yang  intinya adalah bahwa kupatan merupakan cara orang zaman dahulu yakni para wali dalam menyiarkan agama islam ditanah jawa..
Nilai filosofis dari kupatan ini adalah, kenapa  ada hari raya kupat, ”kupat” berasal dari bahasa jawa “Ngaku lepat”(mengaku salah), dan dalam perayaannya ada acara makan bersama (slametan), nilai filosofisnya adalah agar kita selalu menjaga kebersamaan dan kerukunan antar umat islam dan saling menyadari bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Dan kenapa kupat (ketupat) harus dibuat dari janur, karena janur diadaptasi dari bahasa arab “jaa’a Nuurun” yang berarti telah tiba suatu cahaya. Ini merupakan pesan para wali bahwa setelah hari raya di sunnahkan untuk berpuasa dan akan ada banyak pahala bagi mereka yang menjalankannya, dan nantinya akan mendapat suatu keberkahan dari Allah dihari akhir nanti. Dan ketika kupatan di Jepara ada Lomban (pesta para warga nelayan yang berbentuk sedekah laut) di daerah jepara, itu adalah bentuk puji syukur para warga setempat karena melimpahnya perikanan yang ada di laut Jepara, dalam lomban ini biasanya ada ritual penyembelihan kerbau, yang nantinya kepala kerbau akan di larungkan(dihanyutkan) di tengah-tengah laut, tujuannya adalah sebagai tolak balak. dan nantinya daging kerbau akan dibagikan kepada masyarakat-masyarakt sekitar.
            Nilai-nilai yang bisa diambil dari lomban ini adalah :
Ø  Nilai ekonomi.
Masyarakat sekitar bisa mendapatkan rezeki dengan cara memanfaatkan keramian dari perayaan lomban dengan menjual berbagai macam makanan dan barang ataupun jasa yaitu dengan menyewakan perahu untuk para pengunjung .
Ø  Nilai Ibadah.
daging kerbaunya nantinya akan dibagikan pada masyarakat yang kurang mampu .
Ø  Nilai Sosial.
terjalin kerukunan dan kebersamaan antar masyarakat.




Postingan Serupa

08.31 - tanpa komentar

0 komentar untuk NILAI FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM PADA PERAYAAN KUPATAN DIJEPARA.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan