HADIS SHAHIH






     HADIS SHAHIH

      Makalah ini disusun untuk memenuhi
Matakuliah Ulumul Hadis

DosenPengampu :
Adri Efferi, M.Pd


Di susunoleh :

1.     PURNOMO                       NIM : 1410120067
2.     AINUN NAFIS                            NIM : 1410120040

PROGRAM STUDI TARBIYAH JURUSAN PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TAHUN 2014/2015

PENDAHULUAN
Hadits, oleh umat islam diyakini sebagai sumber pokok ajaran islam sesudah Al-Qur’an. Dalam tataran aplikasinya, hadits dapat dijadikan hujjah keagamaan dalam kehidupan dan menempati posisi yang sangat penting dalam kajian keislaman. Secara struktural hadits merupakan sumber ajaran islam setelah Al-Qur’an yang bersifat global, apabila dalam Al-Qur’an tidak ditemui suatu hukum maka umat islam mencarinya dalam hadis-hadis Rasulullah saw, Hadis tidak hanya merupakan perkataan nabi, tapi ia juga meliputi perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW.
Hadis atau al-hadis menurut bahasa adalah al-jadid, yang artinya sesuatu yang baru, lawan dari al-Qadim ( lama ). Artinya berarti yang menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat, seperti  ( orang yang baru memeluk islam ), Hadis ini juga sering disebut dengan al-Khabar, yang artinya berita, yaitu sesuatu yang dipercaya atau dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadis. 
Hadis dilihat dari segi kualitas sanadnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dha’if.

RUMUSAN  MASALAH
1. Bagaimana pengertian hadits Shahih?
2. Apa syarat-syarat hadits Shahih?
4. Bagaimana tingkatan-tingkatan  hadis shahih?


________________________________________
https://mugnisulaeman.wordpress.com

a. Pengertian Hadis Shahih
kata Shahih dalam diartikan orang sehat, antonim dari kata as-saqim orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Hadits yang bersambung sanad (jalur transmisi) nya melalui periwayatan seorang periwayat  yang  adil, dhabith, dari periwayat semisalnya hingga ke akhirnya (akhir jalur transmisi), dengan tanpa adanya syudzudz (kejanggalan) dan juga tanpa ‘illat (penyakit)”.
Defenisi yang ringkas dikemukakan oleh Imam Nawawi sebagai berikut:
ما اتصل سنده با لعدول الضا بطين من غير شدود ولا علة
Hadis yang bersambung sanadnya, diriwyatkan oleh perawi yang adil lagi dhabith, tidak syadz dan tidak ber’illat”.
Ibnu Hajar al-Atsqalani memberikan defenisi hadis shahih adalah:
“Yaitu suatu hadis yang dinukilkan oleh orang yang adil lagi sempurna kedhabitannya, bersambung sanandnya tidak ada caca serta tidak ada syadz”.
Dr. al-Husaini Abdul Majid memberikan defenisinya, sebagai berikut:
“Hadis shahih adalah yang sanadnya saling bersambung dengan penukilan orang yang adil dan kuat hafalannya yang diterima dari orang seperti itu juga selamat dari kejanggalan dan cacat.”
Bila diperhatikan dari macam-macam defenisi di atas semuanya mempunyai makna yang sama, sekalipun terdapat perbedaan dari segi bahasa atau redaksinya.
Gambaran mengenai hadis shahih menjadi lebih jelas setelah Imam Syafi’i memberikan ketentuan bahwa riwayat suatu hadis dapat dijadikan hujjah apabila:
Ø  Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan agamanya; dikenal sebagai orang yang jujur, memahami dengan baik hadis yang diriwayatkannya, mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafalnya,  mampu meriwayatkan hadis secara lafal, terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafal, bunyi hadis yang dia riwayatkan sama dengan bunyi hadis yang giriwayatkan oleh orang lain dan terlepas dari tadlis ( menyembunyikan cacat ).
Ø  Rangakaian riwayatnya bersambung sampai kepada nabi Muhammad SAW.
________________________________________
https://maktabahmanhajsalafi.wordpress.com/
Suyitno, Studi ilmu-ilmu Hadis, Raden Fatah Press, 2006, Palembang.
Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, 1999, Bandung. Hal: 143
b.  Kriteria Hadis Shahih
v  Sanadnya Bersambung
       setiap perawi dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari perawi terdekat sebelumnya. Keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad dari suatu hadits. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rangkaian para perawi hadits shahih sejak perawi terakhir sampai kepada perawi pertama (para sahabat) yang menerima hadits langsung dari Nabi,
bersambung dalam periwayatannya.
       Sanad suatu hadits dianggap tidak bersambung bila terputus salah seorang atau lebih dari rangkaian para perawinya, bisa jadi rawi yang dianggap putus itu adalah seorang rawi yang dha’if, sehingga hadits yang bersangkutan tidak shahih.
v  Perawinya Adil
       Seseorang dikatakan adil apabila ada padanya sifat-sifat yang dapat mendorong terpeliharanya ketaqwaan, yaitu senantiasa melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, dan terjaganya sifat Muru’ah, yaitu senantiasa berakhlak baik dalam segala tingkah laku dan hal-hal lain yang dapt merusak harga dirinya.
v   Perwainya Dhabith
       Seorang perwai dikatakan dhabit apabila perawi tersebut mempunyai daya ingat yang sempurna terhadap hadits yang diriwayatkannya.
       Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, perawi yang dhabit adalah mereka yang kuat hafalannya terhadap apa yang pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut kapan saja manakala diperlukan. Ini artinya, bahwa orang yang disebut dhabit harus mendengar secara utuh apa yang diterima atau didengarnya, kemudian mampu menyampaikannya kepada orang lain atau meriwayatkannya sebagaimana aslinya.
v  Tidak Syadz
       Syadz (janggal/rancu) atau syudzuz adalah hadits yang bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat atau lebih tsiqqah perawinya. Maksudnya, suatu kondisi di mana seorang perawi berbeda dengan rawi lain yang lebih kuat posisinya, kondisi ini dianggap syadz karena bila ia berbeda dengan rawi lain yang lebih kuat posisinya, baik dari segi kekuatan daya hafalannya atau jumlah mereka lebih banyak, maka para rawi yang lain itu harus diunggulkan, dan ia sendiri disebut syadz. Maka timbullah penilaian negatif terhadap periwayatan hadits yang bersangkutan.
v  Tidak Ber’illat
       Hadits ber’illat adalah hadits-hadits yang cacat atau terdapat penyakit karena tersembunyi atau samar-samar, yang dapat merusak keshahihan hadits. Adanya kesamaran pada hadits tersebut, mengakibatkan nilai kualitasnya menjadi tidak shahih.       Dengan demikian, yang dimaksud hadits tidak ber’illat, ialah hadits yang di dalamnya tidak terdapat kesamaran atau keragu-raguan. ‘Illat hadits dapat terjadi baik pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad.
c.   Macam-macam Hadis Shahih
Hadis shahih terbagi menjadi dua macam, yaitu:
1.      Hadis shahih lidzatihi
Hadits Shohih li-Dzatihi adalah suatu hadits yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang yang adil, dhabith yang sempurna, serta tidak ada syadz dan ‘Illat yang tercela. Hadis shahih lidzatihi mempunyai kedudukan teratas untuk diterima sebagai hujjah, karena hadis ini memenuhi syarat atau kriteria sebagai hadis shahih, diantaranya hafalannya harus kuat dan lain sebagainya   
2.      Hadis shahih lighairihi
Hadis shahih lighoirihi tidak menduduki peringkat tertinggi dalam fungsinya sebagai hujjah. Hadis tersebut asalnya bukan hadis shahih, melainkan hadis hasan, tapi karena hadis tersebut ada hadis yang mendukungnya maka hadis ini bisa naik ke peringkat hadis shahih lighoirihi.
Hadits ini dinamakan lighoirihi karena keshohihan hadits disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dalam artian hadits yang tidak sampai pada pemenuhan syarat-syarat yang paling tinggi.Hadits jenis ini merupakan hadits hasan yang mempunyai beberapa penguat, Artinya kekurangan yang dimiliki oleh hadits ini dapat ditutupi dengan adanya bantuan hadits lain, dengan teks yang sama, yang diriwayatkan melalui jalur lain.
________________________________________
Contoh Hadis Shahih
contoh hadits yang shahih adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ "(رواه البخاري)
" Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math'ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur" (HR. Bukhari, Kitab Adzan).
Contoh hadis shahih lighairihi:
Hadits Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
أن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة ‏
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah)
Ibnu ash-Shalah rahimahullah berkata:”Maka Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah adalah termasuk orang yang terkenal dengan kejujuran dan kehormatan. Akan tetapi ia bukan termasuk orang yang matang (dalam hafalannya), sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa ia dha’if (lemah) dari sisi buruknya hafalannya. Dan sebagian ulama yang lainnya mengatakan bahwa ia tsiqah (kredibel) dikarenakan kejujurannya dan kehormatannya. Maka haditsnya dari jalur ini adalah hadits Hasan. Maka ketika digabungkan kepadanya riwayat-riwayat dari jalur lain, hilanglah apa yang kita kita khawatirkan dari sisi buruknya hafalan, dan tertutupilah dengan hal itu kekurangan yang sedikit, sehingga sanad hadits ini menjadi shahih, dan disetarakan dengan tingkatan hadits shahih.”(Muqaddimah Ibnu ash-Shalah) ________________________________________
D.  Kedudukan Hadis Shahih Dalam Islam
Kedudukan hadis dalam islam sangat tinggi karena merupakan sumber hokum islam kedua setelah Al-qur’an. Hadits yang telah memenuhi persyaratan hadits shahih wajib diamalkan sebagai hujjah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu, tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah.
Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i(pasti kebenarannya), yaitu al-Quran dan hadits.


Kesimpulan
Hadis Shahih secara istilah (terminologi), maknanya adalah: “Hadits yang bersambung sanad (jalur transmisi) nya melalui periwayatan seorang periwayat yang ‘adil, dhabith, dari periwayat semisalnya hingga ke akhirnya (akhir jalur transmisi), dengan tanpa adanya syudzudz (kejanggalan) dan juga tanpa ‘illat (penyakit)”.

Daftar Pustaka 

Suyitno, Studi ilmu-ilmu Hadis, Raden Fatah Press, 2006, Palembang.
Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, 1999, Bandung. Hal: 143
Suyitno, Studi ilmu-ilmu Hadis, Raden Fatah Press, 2006, Palembang. Hal: 75
Majid Khon, Ulumul Hadis, Sinar Grafika Offest, 2010, Jakarta. Hal: 152
Suprapto, Munzir, Ilmu Hadis, Raja Grafindo Persada, 2008, Jakarta. Hal: 132
Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, 1999, Bandung.
Majid Khon, Ulumul Hadis, Sinar Grafika Offest, 2010, Jakarta. Hal: 156

Postingan Serupa

13.12 - tanpa komentar

0 komentar untuk HADIS SHAHIH.

silahkan berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan